kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan


Minggu, 09 Agustus 2026 / 16:35 WIB
Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan
ILUSTRASI. Kontan - Asus Native Online (Dok. Shutterstock/Shutterstock.com)


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah startup Indonesia tergolong besar secara global, namun kualitas ekosistemnya masih tertinggal. Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index 2026, Indonesia berada di peringkat ke-45 dari sisi kualitas ekosistem startup. Sementara itu, Kementerian Perindustrian mencatat jumlah startup Indonesia berada di posisi keenam terbesar di dunia.

Wakil Direktur sekaligus Direktur Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai, besarnya jumlah startup ditopang oleh populasi generasi muda yang besar dan melek digital.

Namun, kondisi tersebut belum diimbangi dukungan pendanaan yang memadai. Keterbatasan pendanaan membuat startup, terutama di luar kota besar, lebih sulit mengembangkan bisnisnya.

Baca Juga: ESG Semakin Diperhitungkan dalam Keputusan Bisnis, Investasi dan Pembiayaan

Selain pendanaan, persoalan tata kelola juga menjadi tantangan. Menurut Eko, sebagian startup terlalu mengejar status seperti unicorn tanpa membangun tata kelola sejak awal.

"Investor tidak lagi mau hanya sekadar bakar-bakar duit, tetapi harus bisa menunjukkan kinerja untung dalam periode yang mereka tentukan," kata Eko kepada KONTAN, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, masalah tata kelola pada satu startup juga dapat memengaruhi persepsi investor terhadap ekosistem secara keseluruhan. Kondisi tersebut semakin penting karena sebagian startup masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan keuntungan.

Kendati demikian, Eko melihat prospek startup Indonesia masih terbuka. Startup yang menawarkan solusi atas kebutuhan masyarakat tetap berpeluang menarik investor, meski selektivitas pendanaan semakin meningkat.

Indonesia juga memiliki pasar domestik yang besar serta talenta yang cukup kompetitif. Namun, pemerintah perlu memperkuat ekosistem pendanaan agar startup dan talenta nasional tidak harus mencari basis bisnis maupun pendanaan di negara lain.

Eko mendorong pemerintah memperluas program pencarian dan pengembangan startup potensial, termasuk di luar Jakarta dan Surabaya. Program tersebut juga perlu mempertemukan startup dengan investor global agar akses pendanaan semakin terbuka.

Baca Juga: Intip Strategi Ekspansi Darma Henwa (DEWA), Siapkan Capex Rp 2,4 Triliun Tahun Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×