Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memberikan tanggapan terkait kinerja pasca pengesahan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria.
Asal tahu saja, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia resmi mengesahkan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria dalam Rapat Paripurna, Selasa (22/9/2026).
Pengesahan ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar, terutama bagi emiten properti dengan land bank besar dan terkonsentrasi.
Baca Juga: Cukai Minuman Manis Segera Berlaku, Ini Kekhawatiran Industri Mamin
Direktur Ciputra Development Harun Hajadi mengatakan, pihaknya masih mempelajari dampak dari UU tersebut ke kinerja CTRA secara keseluruhan, sehingga belum ada komentar lebih jauh.
Namun, CTRA menegaskan fokus perusahaan dalam menjaga cadangan lahan sebagai modal operasional.
“Land bank itu adalah bahan baku kami, sehingga bagaimanapun harus kami jaga,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Di sisi lain, Harun menuturkan bahwa penahanan suku bunga Bank Indonesia (BI) di 5,75% pada September 2026 belum berdampak banyak ke kinerja Ciputra.
Hal ini juga terkait siklus industri real estate yang sedang turun di tahun 2026.
Saat ini, sekitar 30% pendapatan CTRA berasal dari aset recurring income. Ke depan, persentase raihan pendapatan dari aset recurring juga masih ada di kisaran angka tersebut dan belum ada perubahan porsi dari aset lainnya.
“Kami tumbuh secara organik saja, tidak perlu dipaksakan. Sebab, semua tergantung pasar, sehingga untuk recurring itu pasarnya harus tepat juga,” katanya.
Terkait volatilitas kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dampaknya juga dinilai belum terlalu banyak ke kinerja CTRA secara keseluruhan.
Harun bilang, CTRA juga saat ini tidak punya kewajiban dalam dolar AS.
“(Pembangunan) perumahan barang-barangnya biasa, tidak banyak impor,” paparnya.
Per kuartal I 2025, Ciputra mengantongi penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 5,19 triliun di akhir Juni 2026, turun 11,69% year on year (YoY)
Segmen penjualan dari kavling, rumah hunian, dan ruko, apartemen, serta kantor berkontribusi Rp 4 triliun pada pendapatan periode ini.
Sisanya sebesar Rp 1,18 triliun berasal dari pendapatan usaha yang terdiri dari pelayanan kesehatan, pusat niaga dan kawasan komersial, hotel, sewa kantor, lapangan golf, dan lain-lain.
CTRA membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun di akhir semester I 2026, turun 11,19% YoY.
Baca Juga: Automechanika Jakarta Dorong Penguatan Industri Aftermarket dan Rantai Pasok Otomotif
Dalam catatan KONTAN, sejak awal tahun 2026, CTRA sudah memproyeksikan raihan pendapatan dan laba bersih turun 10% pada tahun 2026.
Meskipun target pendapatan dan laba diturunkan, tetapi CTRA masih menargetkan pencapaian pendapatan marketing sales stagnan di Rp 9,5 triliun dengan mempertimbangkan situasi perekonomian global dan domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














