kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Ekspor Baterai EV Jadi Langkah Awal Hilirisasi Nikel, Nilai Tambah Masih Jadi PR


Jumat, 09 Oktober 2026 / 17:06 WIB
Ekspor Baterai EV Jadi Langkah Awal Hilirisasi Nikel, Nilai Tambah Masih Jadi PR
ILUSTRASI. Pabrik baterai mobil listrik (Dok/SGMW Motor)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari Indonesia menjadi langkah awal memperluas hilirisasi nikel ke industri baterai, tetapi perluasan nilai tambah dinilai menjadi pekerjaan rumah Indonesia ke depan.

Seperti diketahui, pada Kamis (8/10/2026), Presiden Prabowo meresmikan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah. Ekspor ini menjadi salah satu proyek strategis dengan total investasi baru senilai US$ 10,2 miliar atau sekitar Rp 180 triliun.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, ekspor perdana dari IWIP menjadi tonggak penting karena Indonesia mulai bergerak dari pengekspor produk nikel olahan menjadi pemasok material dan sel baterai.

Baca Juga: Kementerian ESDM Temukan 2.741 Lokasi Tambang Emas Ilegal, Perhapi Desak Penindakan

Meski begitu, peningkatan investasi dan ekspor belum otomatis membuat Indonesia menguasai nilai tambah tertinggi dalam rantai industri baterai.

"Ini belum berarti Indonesia sudah memperoleh nilai tambah tertinggi karena sebagian besar ekspor masih berupa produk antara, sementara teknologi, margin, dan merek masih banyak dikuasai investor asing,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Menurut Yusuf, investasi industri baterai juga berpotensi meningkatkan devisa. Namun, dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja perlu dicermati karena industri ini padat modal.

Penerimaan negara juga disebut belum tentu maksimal dalam jangka pendek akibat insentif pajak dan fasilitas kawasan industri.

Di sisi lain, rantai industri baterai Indonesia mulai terbentuk, dari bijih nikel, mixed hydroxide precipitate (MHP), prekursor, sel baterai, hingga daur ulang. Namun, penguasaan teknologi masih menjadi pekerjaan rumah.

Yusuf menyoroti kelemahan Indonesia dalam desain sel, sistem manajemen baterai, elektronik daya, dan pengembangan merek kendaraan. Adapun ketergantungan terhadap teknologi, modal, dan pasar Tiongkok juga masih tinggi.

Baca Juga: Ekspor Sawit Agustus 2026 Naik 12,56%, Stok Indonesia Turun Jadi 2,21 Juta Ton

Risiko lainnya datang dari perubahan teknologi baterai global. Peralihan pasar ke baterai lithium iron phosphate (LFP) yang menggunakan lebih sedikit nikel dinilai dapat mempengaruhi prospek permintaan nikel untuk baterai. Selain itu, persyaratan kandungan lokal dan emisi karbon di pasar global semakin ketat.

“Risiko ini semakin besar karena permintaan dunia dapat berubah, termasuk pergeseran ke baterai LFP yang menggunakan lebih sedikit nikel serta makin ketatnya persyaratan kandungan lokal dan emisi karbon di pasar global,” kata Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×