Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat menghadapi tekanan akibat terganggunya distribusi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Surutnya Sungai Kapuas akibat fenomena El Nino menghambat pengiriman CPO, memicu penumpukan minyak sawit di tangki penyimpanan pabrik, dan mendorong sejumlah pabrik mengurangi pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani.
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan pendangkalan Sungai Kapuas merupakan persoalan berulang setiap musim kemarau. Namun, kondisi tersebut dinilai belum diantisipasi secara optimal sehingga kembali menghambat distribusi CPO dari sejumlah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat.
Terhambatnya pengiriman menyebabkan CPO tertahan di tangki penyimpanan pabrik. Ketika kapasitas penyimpanan semakin terbatas, pabrik terpaksa membatasi pembelian TBS agar penumpukan minyak sawit tidak semakin besar.
Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Petani Sawit Minta Dukungan EUDR hingga Evaluasi B50
"CPO dari beberapa pabrik di sana sepanjang Sungai Kapuas itu kan terpaksa tidak bisa mengeluarkan, tidak bisa dikirim karena Sungai Kapuasnya pendangkalan. Nah, pertanyaannya jalur darat gimana? Nah, itu pilihan yang sangat sulit karena biaya akan meningkat," jelas Gulat kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).
Menurut Gulat, berdasarkan informasi dari Apkasindo Kalimantan Barat, wilayah yang terdampak gangguan distribusi ini meliputi Kabupaten Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu. Selama ini, Sungai Kapuas menjadi jalur transportasi penting untuk mengangkut CPO dari wilayah hulu menuju jalur distribusi berikutnya.
Di tengah kendala tersebut, terdapat alternatif pengiriman melalui sebuah pelabuhan kecil di sekitar hulu Sanggau. Pelabuhan itu disebut memiliki kedalaman yang relatif lebih memadai untuk mendukung pengiriman CPO.
Meski demikian, kapasitas pelabuhan yang terbatas membuat jalur tersebut belum dapat sepenuhnya menggantikan peran Sungai Kapuas dalam distribusi minyak sawit. Pemanfaatannya setidaknya diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap kapasitas tangki penyimpanan di pabrik kelapa sawit.
Baca Juga: Harga Batubara Tinggi Jadi Momentum Genjot Produksi, tapi Target Belum Tentu Tercapai
"Di sekitar di hulu Sanggau itu kan ada pelabuhan kecil, itu lumayan agak dalam. Mungkin itu salah satu pelabuhan yang bisa dimanfaatkan di sepanjang Sungai Kapuas tadi untuk mengirim CPO, tapi itu hanya pelabuhan kecil. Artinya, ya paling tidak bisa mengurangi semakin meleburnya tangki timbun dari pabrik-pabrik kelapa sawit," jelas Gulat.
Harga TBS Sawit Turun Rp 150-Rp 200 per Kg
Gangguan distribusi CPO mulai berdampak terhadap petani melalui penurunan harga TBS. Gulat menyebut harga TBS di wilayah sepanjang Sungai Kapuas sebelumnya berada pada kisaran Rp 2.800-Rp 2.900 per kilogram.
Namun, harga tersebut kini mengalami penurunan sekitar Rp 150-Rp 200 per kilogram dibandingkan dengan periode normal. Penurunan ini menjadi tekanan tambahan bagi petani, terutama ketika pabrik mengurangi pembelian akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Gulat menilai kondisi tersebut menunjukkan bagaimana hambatan distribusi dapat merambat ke tingkat petani. Ketika pengiriman CPO terhenti dan tangki penyimpanan mulai penuh, pabrik cenderung menekan volume pembelian bahan baku.
"Ini kejadian seperti dulu larangan ekspor sawit di zaman Presiden Jokowi. Artinya, akan menjadi alasan yang bisa diterima secara ekonomi, bahwa pabrik mengurangi pembelian TBS karena tangki timbun mulai penuh. Dampaknya, harga TBS akan menurun. Itu sudah secara teori ekonomi seperti itu," terangnya.
Baca Juga: ICP Tembus US$ 106 per Barel, Penerimaan Hulu Migas Diproyeksi Capai 109% pada 2026
Situasi ini memperlihatkan bahwa kelancaran distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani. Selain produksi, kapasitas penyimpanan dan ketersediaan jalur pengangkutan CPO turut memengaruhi kemampuan pabrik menyerap hasil panen.
El Nino Dinilai Belum Berdampak Signifikan terhadap Produktivitas Sawit
Di sisi lain, Gulat menilai kekeringan yang terjadi tahun ini belum akan memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas sawit nasional pada tahun depan.
Menurut dia, musim kemarau di sejumlah provinsi baru berlangsung sekitar satu hingga dua bulan. Ia berharap periode kering tersebut tidak berlangsung lebih dari tiga bulan sehingga tanaman kelapa sawit tidak mengalami tekanan kekeringan berkepanjangan.
Gulat juga berharap musim hujan yang diperkirakan mulai memasuki November dapat membantu menjaga kondisi tanaman dan mencegah penurunan produktivitas sawit nasional.
"Kesimpulan saya, dampak El Nino ataupun panas yang berkepanjangan ini, seiring tanaman kelapa sawit yang membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi, itu tidak akan menurunkan produktivitas CPO Indonesia. Itu pandangan saya secara agronomi," tandas Gulat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














