kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.886.000   2.000   0,11%
  • USD/IDR 16.618   18,00   0,11%
  • IDX 6.938   105,24   1,54%
  • KOMPAS100 1.003   16,38   1,66%
  • LQ45 778   13,08   1,71%
  • ISSI 221   2,69   1,23%
  • IDX30 404   6,68   1,68%
  • IDXHIDIV20 476   9,24   1,98%
  • IDX80 113   1,62   1,45%
  • IDXV30 116   1,67   1,46%
  • IDXQ30 132   2,69   2,08%

Erna Sari Tutup 9 Gerai Ayam Penyet Karena Covid, Bangkit Berkat Jualan di Status WA


Selasa, 15 Februari 2022 / 13:00 WIB
Erna Sari Tutup 9 Gerai Ayam Penyet Karena Covid, Bangkit Berkat Jualan di Status WA


Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pandemi Covid-19 mengubah pola bisnis para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tidak sedikit yang menutup usahanya karena tak mampu beradaptasi dengan kondisi yang tidak pasti ini. Salah satu UMKM yang bertahan bahkan meningkatkan penjualan adalah usaha Ayam Penyet Bandung (APB).

Pemilik Ayam Penyet Bandung (APB) Erna Sari (39 tahun) menceritakan, kondisi covid mengubah bisnisnya dari yang tadinya offline di gerai-gerai menjadi online di berbagai channel penjualan online. Dengan cross selling secara cepat, usaha Erna selamat dari badai Covid-19 yang sampai saat ini masih menerjang pelaku UMKM.

Erna mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka dampak pandemi Covid-19 sangat dahsyat, semua gerai yang sudah dibangun sejak 2013 lalu tutup karena lokasi yang ditempatinya juga melakukan lockdown. Maklum Erna membangun outlet di beberapa kantin perkantoran dan pusat perbelanjaan di kawasan Kembangan Jakarta Barat.

Petaka Covid-19 datang pada awal 2020, Erna Sari yang sebelumnya bisa memperoleh omzet Rp 200 juta per bulan dari sembilan outletnya anjlok menjadi Rp 18 juta per bulan. "Saya pulangkan semua pegawai," ungkap dia kepada Kontan.co.id, pekan lalu.

Tak ingin berdiam diri, berbekal belajar membuat status Whatsapp (WA) dibantu oleh sang adik, orderan dari kerabat dan relasi yang sudah dibangunnya mulai datang kembali. "Coba bayangkan, tahun 2020 saya baru bisa buat status WA. Waktu itu saya terlena penjualan offline yang ramai, pas pandemi saya tidak tahu harus bagaimana," ujar dia.

Melihat kondisi tersebut, akhirnya saya mengikuti berbagai kelas digital marketing dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ikut pameran UMKM Bank BRI, dan Pemda DKI Jakarta. "Saya bisa mengikuti kelas sampai tujuh kali sehari soal digital merketing, keuangan, manajemen, dll, saya ingin usaha saya kembali hidup," imbuh dia.

Berbekal pelatihan itu, Erna Sari terpilih sebagai 10 UMKM terbaik Brilianpreuner BRI. Dari sana dia terus semangat meng-upgrade diri agar bisa terus mengembangkan usahanya meski pandemi Covid-19. Saat ini, produk jualannya sudah ada di berbagai channel penjualan online.

Produk dari Ayam Penyet Bandung pun terus bertambah, saat ini Erna tak hanya menjual ayam tetapi juga bebek, ikan, frozen food, otak-otak, baso, dll.

Bahkan, karena pandemi, kini usaha katering Erna Sari juga terus dikembangkan. "Saat pandemi Covid-19 omzet saya malah Rp 375 juta per bulan tahun 2021, kini ada empat outet saya sudah buka kembali karena kantor dan mal mulai buka," kata dia.

Tak berhenti di sana, untuk menjangkau lebih luas. Erna Sari membuka kemitraan atau waralaba untuk bisnisnya. Mulai dari Rp 7 juta sampai Rop 400 juta. Pihaknya bahkan menyediakan tim manajemen jika sang investor tak bisa mengelola sendiri.

"Saya baru launching pekan lalu, sudah ada yang bermitra di Bandung, Surabaya, dan Serang," kata Erna Sari.

Tidak hanya terus mengembangkan makanan siap saji, Erna Sari kini mulai mengembangkan produk sambel dengan nama Sambel Ceurik yang kini sudah ada di Hypermart. Saat ini ada enam jenis sambel yang sudah diproduksi Erna Sari.

Sambel ini sebenarnya menjadi pelengkap menu ayam penyet bandung, tetapi ketika Erna Sari mendapat pelatihan tiga bulan dari Kementerian Perindustrian, dirinya mendapatkan ide untuk memproduksi sambel tersendiri dengan kemasan yang menarik

Kata dia, dalam pelatihan di Kementerian Perindustrian, pihaknya diajarkan untuk memproduksi sambel yang aman, tahan lama, higienis, pemasaran, channel pemasaran, sampai persiapan ekspor.

Tak hanya itu, Erna Sari mengatakan dari BRI juga pihaknya mendapat kesempatan untuk melakukan ekspor. "Saya ikut kurasi ekspor, sudah lolos, ada fasilitasi ada BRI bisnis matching dari buyer Amerika, Jepang, dan Kanada. Ini lagi proses untuk pengiriman sampel," ucap dia.

Bukan saja mendapat kesempatan ekspor, Erna Sari juga sudah mendapat order 4.000 pies per hari untuk sambel. "Mesin pembuat sambel yang bagus harganya Rp 100 juta, saya lagi berpikir investasi itu sekaligus memastikan pasokan sambel itu, apakah continue," terang dia.

Dengan bisnis yang telah dikembangkan sampai saat ini, Erna Sari menargetkan bisa meraih omzet Rp 500 juta per bulan.

"Saya bermimpi Ayam Penyet Bandung ada di seluruh Indonesia. Juga ada di negara-negara tetangga. Presiden Jokowi bilang kita harus punya ratusan restoran di luar negeri, kebetulan saya ikut pelatihannya waktu itu," urai dia.

Berawal di Trotoar

Berawal dari trotoar, bisnis Erna Sari terus membesar. Namun perjuangannya membesarkan Ayam Penyet Bandung tak sebentar. Saat itu, Erna mengenang, pada tahun 2013 lalu, suaminya meninggal dunia karena menderita sakit gagal ginjal. Kondisi itu terjadi ketika Erna usai melahirkan.

Dari titik itu, Erna Sari memulai hidup dari nol pada tahun 2013 lalu, iya pun bersikeras tak ingin pulang kampung ke Bandung karena tak ingin menyusahkan orang tuanya, maka saat itu berbekal uang Rp 30 juta hasil dari pinjaman, dia memberanikan diri untuk membuka warung pinggir jalan dengan nama Ayam Penyet Bandung (APB) di kawasan Kembangan, Jakarta Barat.

"Saya berbekal hobi memasak dan resep mamah, saya akhirnya jualan ayam penyet. Waktu itu belum ada yang jualan ayam penyet di dekat situ," kata dia sambil mengenal kisah perihnya itu, kepada Kontan.co.id, Sabtu (12/2).

Setelah berpikir keras membuat produk jualannya dengan modal seadanya itu, Erna Sari kemudian membeli gerobak, tenda biru, bahan baku. "Saya jualan di trotoar. Anak saya yang masih merah, saya taruh kardus. Saya jualan untuk bertahan hidup setelah ditinggal suami," terang dia.

Erna Sari mengisahkan, saat pertama kali berjualan pada Juli 2013 lalu sebelum masuk bulan puasa rupanya mendapat respon yang baik dari warga sekitar. Konsep masakan sunda dan ayam penyet yang memang disukai semua kalangan membuat masakan Erna mulai dikenal di sekitar sana.

Lambat laun, masakan Ayam Penyet yang diberi brand Ayam Penyet Bandung oleh Erna Sari terkenal di daerah sekitar Kembangan, Jakarta Barat. Setiap warung pinggir jalannya buka antrean mengular. Erna pun kemudian percaya diri untuk mempekerjakan dua pegawai dalam membantunya menyiapkan masakan.

Tak ingin berdiam diri melihat dagangannya laku keras, Erna Sari kemudian mencetak brosur dan baner untuk dibagikan dan sering datang ke kantin kantor dan mal untuk memberi tahu dagangannya.

Ia mengatakan, dirinya datang ke berbagai kantor dan pusat perbelanjaan di kawasan Kembangan lantaran ingin menawarkan agar dagangannya bisa berjualan di sana. "Saya datangi kantor pemasarannya, beruntung cabang kedua ada di Bank BTN di dekat sini, saya sewa Rp 500.000 per bulan," terang dia.

Ia mengatakan, pembukaan cabang tersebut agar pegawainya tidak menganggur saat pagi hari. Sebab, untuk berjualan di trotoar di kawasan Kembangan hanya diperbolehkan pada sore hari. Sehingga waktu pagi hari terbuang jika tak digunakan secara produktif oleh karyawannya.

Maka, Erna Sari pun terus mencari lokasi baru untuk berjualan. Beruntung, ia mendapatkan tempat lagi di Pujasera Kawan Lama untuk berjualan. Berlanjut di Mal Puri Indah di kantin karyawan, dan beberapa kantor di kawasan Kembangan. "Tahun 2014 saya sudah punya empat cabang," ungkap dia.

Namun, kesedihan menghampiri Erna Sari kembali, sang ibu meninggal dunia. Adiknya yang bekerja di pertambangan di Malaysia pun kembali ke Indonesia. Ia berharap adik perempuannya itu tak kembali ke Malaysia karena Ernawati tak lagi memiliki orang tua dan juga suami.

"Saya minta jangan balik ke Malaysia. Saya sendirian di sini. Saya katakan kita kelola bareng karena ayam penyet ini sudah ada laba," urai dia.

Tak disangka, sang adik pun bersedia. Namun, agar tak membuat ribut antar keluarga, maka Erna Sari memberikan semua aset empat cabang dan sistem yang sudah dibangunnya tersebut kepada adiknya untuk dikelola sendiri. "Saya mulai lagi dari nol pada tahun 2015. Saya bangun lagi satu per satu cabang Ayam Penyet Bandung," ucap dia.

Ia mengatakan bahwa adiknya sekarang menamai brand jualannya dengan nama Ayam Penyet 99. Dari sana bisnis keduanya berjalan bersama dan dikelola masing-masing.

Erna Sari menjelaskan pada tahun 2015 usahanya terus berkembang sampai kemudian pada tahun 2019 dirinya sudah memiliki sekitar delapan cabang di berbagai lokasi dengan omzet sekitar Rp 200 juta per bulan. Dengan omzet sebesar itu Erna terus mengembangkan usaha bukan saja membuat ayam penyet, tetapi juga mulai membuat berbagai produk.

"Saya mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 100 juta dari BRI, kemudian saya mendapat banyak pelatihan. Saya kira BRI adalah BUMN yang paling konsen dengan UMKM. Bayangkan, pelatihannya setiap hari, bukan sebulan atau dua bulan sekali. Ini sangat membantu pengembangan usaha saya," ucap dia.

Saat ini Erna Sari membutuhkan 100 ekor ayam per hari atau 3.000 ekor per bulan untuk berjualan. Belum lagi sembako, sayur mayur, dan sebagainya.

"Saya terus mencari harga yang kompetitif. Sudah banyak yang ingin menjadi suplaier saya, karena kebutuhan saya setiap hari banyak," ungkap dia.

Ia juga mengatakan bahwa usahanya yag terus berkembang juga karena adanya kerjasama dengan para pemasok, mereka sangat percaya untuk pembayaran setiap bulan di tanggal 1.

"Mereka tahu saya memang berbisnis dan benar. Modalnya adalah kepercayaan dan integritas, saya tidak pernah telat membayar," terang Erna Sari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Cara Praktis Menyusun Sustainability Report dengan GRI Standards Strive

[X]
×