kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.970   57,00   0,32%
  • IDX 5.691   47,39   0,84%
  • KOMPAS100 735   7,50   1,03%
  • LQ45 558   5,00   0,90%
  • ISSI 198   1,20   0,61%
  • IDX30 316   2,19   0,70%
  • IDXHIDIV20 390   0,30   0,08%
  • IDX80 84   0,80   0,96%
  • IDXV30 106   -0,34   -0,32%
  • IDXQ30 102   0,32   0,31%

ESDM akan bahas margin batubara mulut tambang


Senin, 08 Agustus 2016 / 20:25 WIB


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana membahas perubahan margin batubara mulut tambang dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pembahasan tersebut buntut dari tidak sepakatnya PLN dengan margin batubara mulut tambang 15%-25%. Lantaran margin tersebut malah lebih besar ketimbang harga pasar.

Direktur Jenderal Mineral dn Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengatakan, kunjungan bersama Menteri ESDM, Arcandra Tahar ke kantor PLN tidak spesifik membahas masalah harga batubara mulut tambang. "Kita akan bertemu lagi dengan PLN untuk membahas hal itu apakah berubah atau tidak lihat nanti," terangnya kepada KONTAN, Senin (8/8).

Sementara Agung Murdifi Manajer Senior Public Relations PLN mengatakan, pihaknya meminta harga wajar dari perubahan margin tersebut. "Yang terpenting PLN mendapatkan harga wajar. Jadi yang ditanggung antara PLN dan pengusaha harus sama," terangnya kepada KONTAN, Senin (8/8).

Maka dari itu ia bilang, pembahasan harus dilakukan secepatnya supaya ini bisa mencari solusi yang terbaik guna memecahkan persoalan harga energi primer agar tidak ada kendala lagi bagi PLN.

"Harus ada formulasi yang tepat, agar produsen energi primer tidak rugi dan PLN juga tidak mengalami kerugian. Artinya keduanya harus
dihubungkan dengan sistem ekonomi yang saling menguntungkan dengan menanggung resiko yang sama juga," terangnya. Asal tahu saja, lanjut Agung, selama ini harga energi primer sangat berpengaruh terhadap biaya pokok produksi PLN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×