Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian ESDM melalui Direktorat Minyak dan Gas (Ditjen Migas) mengungkap bahwa rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatra akan melibatkan Pertamina dan juga investasi asing.
Dirjen Migas ESDM Laode Sulaeman Pembangunan akan menggunakan sistem kolaborasi seperti pada pembangunan Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang.
“Yang akan kita kerjasamakan salah satunya dengan Pertamina, seperti RDMP. Angkanya (investasi) belum kita sampaikan, kalau baca di berita kan sudah banyak taksiran-taksiran. Yang penting target 90 harinya saja, sudah diputuskan sejak 2024 dengan Keppres,” ungkap Laode saat ditemui di agenda Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) di Jakarta, Rabu (11/03/2026).
Baca Juga: Adaro Minerals (ADMR) Siapkan Capex Hingga US$ 240 Juta di Tahun 2026
Keppres yang dimaksud Laode adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi (CPE), yang ditetapkan pada awal September 2024. Dalam beleid tersebut, pemerintah menargetkan pembentukan cadangan sebesar 10 juta barel minyak mentah, 9,6 juta barel BBM, serta sekitar 523 ribu metrik ton LPG.
Dengan catatan, bahwa pembentukan cadangan tersebut tidak dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap hingga 2035, dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal negara.
Lebih lanjut Laode bilang storage atau penyimpanan baru akan difokuskan untuk dibangun di Sumatra.
“Sementara itu dulu yang disampaikan (di Sumatra),” kata dia.
Sayangnya, Laode tidak menjawab mengenai asal investor yang sudah menunjukkan ketertarikan untuk melakukan investasi pembangunan penyimpanan di Indonesia.
“Yang menjadikan 90 hari. Dan kita juga sedang melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan investor. Mirip dengan RDMP tapi di kilang yang lain jadi kapasitas dan muatan bertambah,” ungkapnya.
Baca Juga: PT KAI Catat Penjualan Tiket Angkutan Lebaran Capai 2,57 Juta per Rabu (11/3)
Sebelumnya dalam catatan Kontan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah lebih dulu mengatakan, rencana pembangunan storage tersebut sudah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan. Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.
Bahlil menegaskan percepatan pembangunan storage menjadi satu-satunya langkah untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional. Ia memastikan investor untuk proyek tersebut sudah tersedia.
“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Sudah siap,” katanya.
Ia menjelaskan pendanaan proyek ini akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri. Namun, Bahlil memastikan investasi tersebut tidak berasal dari Amerika Serikat.
“Investasinya bisa blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













