Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SHANGHAI/LONDON. Produsen nikel di Indonesia yang bergantung pasokan sulfur pada Timur Tengah kemungkinan harus mengurangi produksi. Sebab, pengiriman sulfur dari Teluk terganggu konflik akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran.
Seperti dikutip Reuters, Jumat (6/3/2026), Indonesia mengimpor sekitar 75% sulfurnya dari Timur Tengah. Sulfur digunakan untuk membuat asam sulfat, yang penting untuk melarutkan logam dari bijih dalam pemurnian nikel dan pengolahan tembaga.
Beberapa produsen tembaga di Afrika berpotensi menghadapi masalah serupa.
Baca Juga: Utilisasi Smelter Nikel RI Terancam Turun ke 70% akibat Kuota Bijih Terbatas
Timur Tengah menyumbang sekitar 24% dari produksi sulfur global, yaitu 83,87 juta metrik ton tahun lalu, menurut Survei Geologi AS. Namun, gangguan pengiriman di Selat Hormuz, akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran dan pembalasan Teheran yang semakin meluas, mengancam pasokan.
Indonesia, yang merupakan rumah bagi lebih dari 50% produksi nikel global, mengimpor sekitar tiga perempat sulfurnya dari Timur Tengah, menurut Peter Harrisson, analis di perusahaan konsultan CRU. Nikel negara itu sebagian besar digunakan untuk membuat baja tahan karat.
Persediaan sulfur di pabrik nikel dengan metode pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL) rata-rata hanya cukup untuk konsumsi satu hingga dua bulan, menurut dua sumber di perusahaan pengolahan nikel Tiongkok di Indonesia, yang menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang untuk berbicara di depan umum.
Biaya sulfur sudah mencapai sekitar setengah dari biaya operasional pabrik HPAL sebelum konflik pecah karena kenaikan harga yang sangat besar, menurut Marco Martins, seorang analis di Project Blue. Tanpa alternatif, pabrik-pabrik tersebut dapat terpaksa mulai mengurangi produksi pada bulan depan, tambahnya.
Perebutan Pasokan
Perebutan pasokan sulfur akan mempertentangkan perusahaan pengolahan nikel di Indonesia dengan penambang tembaga di Afrika. Duambah dengan produsen pupuk di seluruh dunia, yang juga mencari pengganti sulfur dari Timur Tengah.
Harrisson dari CRU mengatakan harga sulfur telah meningkat menjadi sekitar US$ 500 per ton sebelum konflik dimulai dan, secara indikatif, telah naik lagi 10%-15% sejak saat itu.
Baca Juga: 3 Smelter Dikabarkan Tutup Akibat Pemangkasan RKAB Nikel, Ini Kata APNI
Di Afrika bagian selatan, persediaan sulfur saat ini sekitar 900.000 ton di gudang hanya akan bertahan beberapa minggu, kata seorang sumber logistik yang berbasis di Zambia.
Republik Demokratik Kongo mengimpor sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta ton sulfur untuk memproduksi tembaga tahun lalu, sebagian besar dari Timur Tengah, menurut Harrisson.
Asam sulfat juga dapat diproduksi sebagai produk sampingan dari peleburan tembaga dan penambang tembaga di Afrika yang memiliki atau berlokasi di dekat pabrik peleburan setidaknya akan terlindungi sebagian dari kekurangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













