Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Utilisasi kapasitas pengolahan nikel di Indonesia berpotensi turun signifikan pada 2026 akibat kuota produksi bijih nikel yang lebih rendah, menurut asosiasi industri nikel nasional.
Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah mengatakan, tingkat pemanfaatan kapasitas smelter nikel tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran 70% hingga 75%. Angka tersebut turun dibandingkan sekitar 90% pada tahun lalu.
Penurunan ini terjadi di tengah keterbatasan pasokan bijih nikel domestik yang disebabkan oleh pembatasan kuota produksi.
Baca Juga: BNI Perkuat Sinergi dengan Merchant lewat BNI wondrful Iftar 2026
Menurut Arif, kapasitas pengolahan nikel Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 2,7 juta ton untuk smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL).
Untuk mendukung kapasitas tersebut, industri membutuhkan sekitar 340 juta hingga 350 juta ton bijih nikel basah (wet metric tons).
Namun, kuota produksi bijih nikel atau RKAB yang ditetapkan pemerintah hanya berkisar 260 juta hingga 270 juta ton, kata pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Winarno.
Akibat kesenjangan pasokan tersebut, impor bijih nikel diperkirakan akan meningkat tajam. FINI memperkirakan impor bijih nikel Indonesia tahun ini bisa mencapai 50 juta ton, naik signifikan dibandingkan sekitar 15 juta ton pada tahun lalu.
Sekitar 30 juta ton di antaranya diperkirakan berasal dari Filipina, yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama bijih nikel bagi industri smelter Indonesia.
“Sudah ada perusahaan yang mengimpor dari Filipina, tetapi masih dalam jumlah kecil sampai kondisi cuaca membaik,” kata Arif dilansir dari Reuters Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: Permintaan Listrik PLN Melonjak, Stok Batubara PLTU Paiton Tinggal Enam Hari
Industri juga mulai merasakan dampak dari keterbatasan pasokan tersebut, salah satunya melalui kenaikan harga bijih nikel di pasar domestik.
Menurut Arif, dampak penurunan utilisasi smelter diperkirakan mulai terasa pada akhir kuartal II tahun ini, ketika kelangkaan bahan baku bijih nikel semakin terasa di sektor pengolahan.
Jika tren ini berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menekan operasional smelter nikel nasional yang selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat seiring program hilirisasi mineral pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













