kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.550   50,00   0,29%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

GeTS tawarkan layanan jasa kepabeanan digital


Kamis, 21 September 2017 / 11:22 WIB


Reporter: Tantyo Prasetya | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - Tren transformasi digital berimbas ke seluruh lini industri, termasuk dalam industri Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) atau lebih dikenal dengan custom declaration. Adalah GeTS (Global eTrade Services) sebuah platform yang menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam mengurusi dokumen yang akan digunakan para eksportir dan importir, sebelum barang sampai di tujuan masing-masing.

GeTS merupakan anak perusahaan dari CrimsonLogic, penyedia layanan eGovernment yang didirikan 30 tahun lalu di Singapura.

Chong Kok Keong, CEO GeTS mengklaim, para eksportir dan importir dapat menghemat waktu hingga 80% dalam proses input dokumen untuk custom declaration dengan layanan GeTS. "Kami menggunakan platform yang bisa mengubah dan mendeskripsikan data dari dokumen custom sehingga mampu memotong waktu dan harga di seluruh dunia," terang Chong di Jakarta, Rabu (20/9).

Chong menambahkan, platformnya juga mampu memberikan efisiensi harga. Sebagai perbandingan, saat masih menggunakan dokumen manual biaya yang dikeluarkan sekitar US$ 25 hingga U$ 35. Namun, jika menggunakan platform tersebut, eksportir hanya perlu mengeluarkan biaya US$ 1 saja. "Karena konsepnya pay by used," tambah Chong.

Hingga tahun lalu, GeTS sudah melakukan 900.000 transaksi perdagangan yang berasal dari 163.000 perusahaan lebih dengan total pergerakan kargo sebanyak 71,5 juta ton kargo.

Saat ini, Chong menargetkan agar bisa menjangkau seluruh negara di Asia Tenggara. Sudah ada empat negara yang terkoneksi yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, dan 2 bulan lalu ada di Indonesia lewat Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI). Target terdekat, Vietnam, Filipina, dan Myanmar akan segera bergabung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×