kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Hadapi Pelemahan Rupiah, Kemendag Andalkan Skema Imbal Dagang


Selasa, 09 Juni 2026 / 17:20 WIB
Hadapi Pelemahan Rupiah, Kemendag Andalkan Skema Imbal Dagang
ILUSTRASI. Menteri Perdagangan Budi Santoso (Dok/Chelsea Anastasia)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan mengandalkan skema imbal dagang (countertrade) untuk mengurangi kebutuhan dolar AS di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan harga barang impor.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, pemerintah terus mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang di dalam negeri. 

Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas kerja sama perdagangan berbasis barter atau imbal dagang dengan negara mitra.

"Kita lakukan pengawasan terus, kita antisipasi. Memang harapannya tidak naik," ujar Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: PT Champion Pacific Indonesia (IGAR) Bukukan Pendapatan Usaha Tahun 2025 Tumbuh 5,5%

Lebih lanjut, kata Budi, skema imbal dagang dapat membantu mengurangi kebutuhan devisa untuk transaksi impor karena pembayaran dilakukan dengan pertukaran komoditas atau produk dari masing-masing negara.

"Salah satunya, kan, kemarin kita sudah melakukan kontrak dagang dengan cara barter. Kemarin dengan Filipina kita barter untuk abaca dengan tekstil, kemudian iron ore dengan baja," katanya.

Budi mengungkapkan, nilai kerja sama imbal dagang tersebut mencapai US$ 350 juta atau sekitar Rp 6,3 triliun. 

Ke depan, pemerintah berharap skema serupa dapat diperluas ke lebih banyak produk dan negara mitra.

"Nah itu, kita harapkan nanti ada produk yang lain. Itu salah satu kita untuk mengurangi kebutuhan dolar karena dengan imbal dagang bisa membantu itu," ujarnya.

Menurut Budi, peningkatan ekspor dan pengurangan kebutuhan dolar untuk impor menjadi salah satu langkah yang dapat membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan begitu, risiko kenaikan harga barang impor di pasar domestik juga dapat ditekan.

Kementerian Perdagangan saat ini terus berupaya memantau perkembangan harga barang impor dan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor perdagangan. 

Baca Juga: TBIG Optimistis Bisnis Menara Telekomunikasi Kembali Tumbuh pada 2026

Budi berharap, berbagai langkah antisipasi yang dilakukan dapat menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat di tengah gejolak ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×