Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) meyakini bisnis industri karoseri kendaraan roda empat atau lebih mulai pulih tahun ini, meskipun industri otomotif masih dibayangi tantangan.
Direktur Utama Harapan Duta Pertiwi, Kevin Jong mengatakan, sepanjang 2025, industri ini berada dalam mode bertahan di tengah kondisi ekonomi yang kurang maksimal dan daya beli melambat.
"Namun, kami bisa optimis, pada 2026 ini keliatannya dari awal tahun keadaan sudah membaik," tuturnya dalam paparan publik, Senin (26/1/2026).
Salah satu faktor yang berpotensi jadi pendongkrak kinerja perseroan adalah langkah ekspansi ke sektor tambang dan alat berat, melalui penyertaan modal ke PT Tambang Meranti Mulia Sejahtera (TMMS) dengan total nilai Rp 9 miliar.
Baca Juga: Penjualan Mobil Hybrid Melonjak 10% pada 2025, Ini 15 Model Paling Laris di Indonesia
Kevin mengatakan, langkah ini diambil lantaran adanya potensi sinergi yang saling menguntungkan dengan PT TMMS. Di mana, perseroan dapat melakukan pengerjaan karoseri atau assembly pada dump truck yang dimiliki TMMS. Sehingga, pada akhirnya langkah ini dapat meningkatkan kinerja operasional perseroan.
Sementara itu, lanjut Kevin, rencana bisnis perseroan ke depan bergantung juga pada agen tunggal pemegang merek (ATPM) selaku produsen chassis, penggunaan akhir kendaraan niaga, hingga transportasi publik.
Sebab, industri karoseri domestik berperan sebagai penghubung yang memungkinkan terciptanya nilai tambah di dalam negeri. Khususnya, melalui kustomisasi kendaraan sesuai kebutuhan operasional, kondisi geografis, serta regulasi nasional.
Selain itu, perseroan juga meyakini permintaan dari sektor transportasi publik, terutama bus dalam kota, tetap tangguh pada tahun ini.
Kevin menambahkan, tren otomotif seperti peralihan ke kendaraan listrik dan otomatisasi turut memengaruhi ekosistem bisnis. Ia juga tak memungkiri bahwa industri otomotif masih menghadapi tantangan berat akibat inflasi dan berakhirnya insentif impor CBU.
"Dengan permintaan kendaraan baru yang turun, artinya berpotensi menurunkan permintaan chassis yang dipesan operator dan pelanggan karoseri," ujarnya.
Karena itu, strategi perseroan ke depan ialah beradaptasi dengan konfigurasi chassis baru, serta kebutuhan investasi dalam riset dan pengemabangan untuk tetap relevan dengan kebutuhan original equipment manufacturer (OEM) modern.
Baca Juga: Minat Investor Mulai Pulih, IPA Dorong Iklim Investasi Hulu Migas Lebih Kompetitif
Selanjutnya: IHSG Menguat 0,27% ke 8.975 pada Senin (26/1/2026), ANTM, AMMN, DSSA Top Gainers LQ45
Menarik Dibaca: Promo Superindo Hari Ini 26-29 Januari 2026, Jambu Crystal-Bawang Merah Harga Spesial
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













