Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga daging sapi dan daging kerbau menjelang Ramadhan 2026 memicu kebingungan di kalangan pelaku industri dan pengusaha.
Asosiasi menilai lonjakan harga ini bukan semata persoalan pasokan, melainkan dampak langsung dari kebijakan kuota impor yang dinilai tidak sinkron dengan kebutuhan industri.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA), Hastho Yulianto, menegaskan kebijakan alokasi kuota impor daging sapi tahun 2026 telah mengubah struktur pasar secara signifikan.
“Kebijakan ini berdampak serius pada industri pengolahan daging,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga: Rumah Potong Hewan Dilarang Naikkan Harga Daging Sapi, Ini Sanksi Bagi yang Melanggar
Pemerintah menetapkan kuota impor daging sapi 2026 sebesar 30.000 ton. Namun, porsi untuk pelaku usaha swasta dan anggota NAMPA hanya sekitar 17.000 ton. Menurut Hastho, kondisi ini berisiko memicu kekurangan bahan baku bagi industri pengolahan.
Dengan pasokan yang semakin terkonsentrasi di tangan BUMN dan ruang gerak swasta yang menyempit, pasar dinilai menjadi rentan. “Kalau tidak ditinjau ulang, risiko penurunan produksi, penundaan ekspansi, hingga penghentian usaha akan makin nyata,” tegasnya.
NAMPA juga menyoroti kebijakan impor daging kerbau yang selama ini diandalkan sebagai penyeimbang harga. Impor daging kerbau eks India yang dimonopoli dua BUMN, PT Berdikari dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dengan kuota 100.000 ton pada 2026, dinilai tidak efektif menahan harga.
“Pengalaman sejak 2016 menunjukkan impor kerbau oleh BUMN tidak selalu menurunkan harga. Dalam beberapa periode justru harga ikut naik,” kata Hastho.
Selain itu, ia meminta pemerintah tidak membatasi impor daging untuk kebutuhan industri, termasuk sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). “Daging industri itu bahan baku, bukan konsumsi akhir. Nilainya justru muncul setelah diolah,” ujarnya.
Baca Juga: Amran Ancam Cabut Izin RPH Nakal Jelang Ramadan dan Lebaran, Harga Daging Diawasi
Masalah lain yang dinilai krusial adalah ketidaksesuaian spesifikasi impor. Hastho menyebut adanya izin pemasukan API-U yang jenis dagingnya tidak sesuai dengan permohonan. “Secara angka kuota ada, tapi secara utilisasi tidak efektif dan bisa mematikan importir,” katanya.
Tekanan kebijakan tersebut kini tercermin di harga pasar. Berdasarkan Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Rabu (11/2/2026), harga daging sapi sudah berada di batas atas Harga Acuan Pembelian (HAP).
Untuk daging sapi segar, HAP ditetapkan Rp130.000 per kg untuk paha depan dan Rp140.000 per kg untuk paha belakang.
Ketua Umum Perkumpulan Bakso Wonogiri Mendunia, Maryanto, mengakui adanya kenaikan harga pasca aksi mogok pedagang akhir Januari lalu. “Pasokan aman, tapi harga naik sekitar Rp5.000 per kg,” ujarnya.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada daging kerbau. Secara nasional, harga rata-rata sudah mencapai Rp112.100 per kg atau lebih dari 20% di atas HAP Rp80.000 per kg. Di Pulau Jawa, harganya bahkan menembus Rp120.000 per kg, atau sekitar 50% di atas HAP, sehingga masuk zona merah intervensi.
Di tingkat pedagang, kenaikan harga mulai dirasakan langsung. Ahmad, pedagang daging di Pasar Cibubur, mengaku kini menjual daging sapi Rp140.000 per kg. “Sebelumnya masih Rp130.000 per kg,” katanya.
Baca Juga: Harga Emas Naik Jelang Keputusan The Fed, Perak Capai Rekor Baru
Hal serupa disampaikan Jujun, pedagang di Pasar Cijantung. Menurutnya, hampir semua jenis potongan daging sapi kini dijual dengan harga yang sama. Ia memperkirakan harga masih berpotensi naik hingga Idulfitri.
Sementara itu, di sisi konsumen, Neni, pedagang soto Betawi di Jakarta Timur, mengeluhkan harga daging kerbau yang terus meningkat. “Harganya naik, kualitasnya juga banyak lemak,” ujarnya.
Lonjakan harga yang terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan ini membuat pelaku usaha mempertanyakan efektivitas pengawasan pemerintah terhadap HAP. Asosiasi menilai, tanpa evaluasi menyeluruh, tujuan stabilisasi harga dan keberlanjutan industri daging akan sulit tercapai.
Selanjutnya: Pariwisata Berkelanjutan Angkat Ekonomi Desa Tebara ke Level Regional
Menarik Dibaca: Makuku Luncurkan Comfort Fit, Popok Tipis Anti Bocor untuk Anak Aktif Sepanjang Hari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)