Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga plastik kian tak terbendung. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut pasar kini telah memasuki fase baru, yakni “ganti harga”, setelah kenaikan menembus hingga 80% dalam waktu singkat.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengungkapkan, lonjakan ini dipicu gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Baca Juga: Kenaikan Pajak Air Tanah Terlalu Tinggi, Pelaku Usaha Minuman Ringan Khawatir
“Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar US$ 1.000 per metrik ton, kini sudah naik hingga US$ 1.800. Artinya kenaikannya hampir 80%,” ujar Fajar dalam keterangannya yang diterima Kontan, Rabu (15/4/2026).
Dampak kenaikan ini mulai terasa di tingkat hilir. Harga produk plastik jadi tercatat naik antara 40% hingga 80%, termasuk kemasan yang banyak digunakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Menurut Fajar, tekanan tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Pedagang makanan hingga pelaku UMKM mengeluhkan lonjakan harga kemasan plastik yang signifikan.
Kenaikan ini sempat tertahan selama periode Ramadan dan Lebaran. Pada masa tersebut, pelaku industri lebih fokus menjaga kelancaran distribusi sehingga lonjakan harga global belum sepenuhnya diteruskan ke pasar domestik.
Baca Juga: Hitung-hitungan Rusun Masih Beri Margin Tipis, REI Minta Aturan Diperjelas
“Selama hampir 20 hari kita fokus distribusi Lebaran. Begitu pasar kembali normal, harga langsung melonjak dan pelaku usaha kaget,” jelasnya.
Tak hanya harga, persoalan pasokan juga menjadi tantangan serius. Sekitar 70% bahan baku plastik nasional masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah. Gangguan distribusi membuat pasokan tersendat hingga hampir satu bulan.
Untuk menjaga keberlangsungan produksi, industri kini mengandalkan stok yang tersedia sambil mencari sumber alternatif.
Salah satu opsi adalah mengalihkan impor dari Amerika Serikat, meski harus menghadapi waktu pengiriman yang lebih lama serta biaya logistik yang lebih tinggi.
“Sekarang yang penting ada suplai dulu. Harga nanti akan menyesuaikan,” kata Fajar.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menahan lonjakan biaya.
Baca Juga: PGEO Bakal Masuk ke Bisnis Sewa Generator Hydrogen Fuel Cell
Strategi yang ditempuh antara lain mengurangi ketebalan produk, menambah bahan campuran, hingga meningkatkan penggunaan plastik daur ulang.
Meski demikian, Inaplas menilai tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat. Harga plastik masih berpotensi berfluktuasi sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru.
“Ini bukan sekadar kenaikan harga, melainkan sudah masuk fase ganti harga. Cepat atau lambat pasar akan menyesuaikan di level baru,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













