kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Harga tiket pesawat masih mahal, okupansi hotel di daerah anjlok hingga 40%


Minggu, 09 Juni 2019 / 18:45 WIB


Reporter: Harry Muthahhari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek kenaikan harga tiket pesawat rupanya memberikan dampak cukup signifikan bagi penurunan permintaan hotel. Bahkan di musim libur lebaran tahun ini terjadi penurunan permintaan sekitar 20% sampai 40%.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan penurunan permintaan hotel paling berdampak di daerah-daerah yang jauh dari Jakarta.

“Paling tajam penurunannya Kalimantan, Sulawesi, termasuk Labuan Bajo,” katanya saat dihubungi Kontan.co.id pada Minggu (9/6).

Seperti pada bulan-bulan sebelumnya, tiket pesawat diyakini sebagai penyebab penurunan okupansi hotel. Tahun-tahun sebelumnya, okupansi di musim libur lebaran bisa mencapai 80% sampai 90%. “Sekarang sekitar 60% sampai 70%,” tambah Maulana.

Kemudian, jika pada tahun sebelumnya tingkat okupansi tinggi itu bisa mencapai tujuh hari sepanjang musim liburan, di tahun ini rata-rata okupansi tinggi hanya di tiga hari saja.

Maulana menilai, jika tarif tiket terus-terusan tidak dapat turun maka industri hotel di Indonesia lama-lama malah bersaing dengan hotel di luar negeri. Misalnya saja, dia mewanti-wanti agar ke depan jangan sampai traveler lebih memilih Bangkok ketimbang destinasi pariwisata lokal karena tarif tiket pesawatnya lebih bersaing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×