kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Hortikultura lokal sulit jadi raja di dalam negeri


Kamis, 31 Mei 2012 / 17:21 WIB
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi keuangan di salah satu bank di Jakarta, Jumat (5/2). ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/02/2021.


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Rencana penerapan aturan importasi produk hortikultura pertengahan bulan Juni nanti tampaknya masih menjadi momok menakutkan bagi importir maupun pengusaha ritel produk hortikultura.

Pengusaha dan importir itu mengaku kesulitan untuk meneruskan bisnis karena kesulitan untuk impor. Sementara alternatif mengganti produk impor dengan produk lokal, sulit dilakukan karena pasokan hortikultura di dalam negeri belum mampu penuhi kebutuhan domestik.

Kafi Kurnia, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) bilang, sejatinya pasar dalam negeri potensial untuk perdagangan hortikultura. "Kalau saya diberikan pilihan, saya berdagang hortikultura hanya di domestik saja, karena tingginya sangat tinggi. Tetapi produknya sulit dicari," kata Kafi di Jakarta, Kamis (31/5)

Ia mengatakan, pasokan buah dan sayuran di Indonesia sebenarnya cukup berkualitas dibandingkan dengan produk impor. Namun, masalahnya adalah, minimnya infrastruktur pendukung membuat industri hortikultura lokal kalah bersaing di negeri sendiri.

Ia beri contoh: buah nanas parit asal Pontianak merupakan produk unggulan yang berdaya saing tinggi, bahkan untuk pasar ekspor. "Tetapi kami pengusaha buah dan sayur kesulitan mendatangkan ke Jakarta karena sulitnya pengangkutan. Pernah saya coba datangkan, malah akhirnya busuk ketika sampai di Tanjung Priok," terang Kafi.

Kafi bilang, minimnya sarana pendukung di dalam negeri menjadi kendala sulitnya produk hortikultura lokal menjadi raja di pasar sendiri. Sementara, pilihan untuk membatasi produk impor, dikhawatirkan menurunkan pasokan buah dan sayuran ke dalam negeri yang berimbas pada kurangnya konsumsi buah dan sayuran nasional.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, konsumsi buah nasional mencapai kisarannya 32,59 kg per kapita per tahun. Sedangkan sayur kisarannya 40,66 kg per kapita per tahun. "Tingkat konsumsi ini bisa bertambah rendah,” kata ujar Kafi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×