Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Battery Corporation (IBC) menyiapkan pengembangan bisnis daur ulang baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sebagai bagian dari strategi memperkuat rantai nilai industri baterai nasional.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada 2030, dengan mempertimbangkan kesiapan regulasi dan ketersediaan baterai bekas sebagai bahan baku.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengungkapkan, pengembangan bisnis ini merupakan bagian dari ekspansi perusahaan di sektor midstream untuk melengkapi rantai industri baterai, mulai dari pengolahan mineral hingga pemanfaatan kembali material baterai.
"Dalam konteks rantai nikel menuju baterai, IBC bersama mitra kami CATL Group akan membangun industri midstream untuk melengkap rantai nilai baterai di bawah MIND ID Group," katanya kepada Kontan, Senin (12/10/2026).
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra Naik 9,5% pada September 2026, Tembus 36.723 Unit
Aditya mengatakan, melalui pengembangan tersebut, IBC berencana membangun fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik. Namun, realisasi rencana ini masih bergantung pada kesiapan regulasi serta ketersediaan stok baterai bekas yang dapat dikumpulkan sebagai bahan baku produksi.
Meski demikian, IBC masih menargetkan pengembangan bisnis daur ulang baterai EV pada 2030.
"Recycling akan kami bangun di tahun 2030. Subject to kesiapan regulasi dan jumlah feedstock baterai bekas yang dapat kami secure," lanjutnya.
Menurut Aditya, baterai bekas seharusnya dipandang sebagai sumber daya mineral sekunder, bukan sekadar limbah. Pasalnya, teknologi daur ulang saat ini dinilai mampu mengambil kembali hingga 95% mineral kritis dalam baterai untuk diolah menjadi material baru yang dapat digunakan kembali.
Potensi tersebut membuka peluang bagi industri daur ulang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku baterai sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya mineral.
Aditya juga optimistis, pertumbuhan pasar kendaraan listrik domestik dapat mendukung perkembangan bisnis daur ulang baterai di Indonesia. Semakin luas penggunaan kendaraan listrik, semakin besar pula potensi ketersediaan baterai bekas yang dapat menjadi bahan baku bagi industri daur ulang pada masa mendatang.
Baca Juga: Bahlil Soroti Dominasi Perusahaan Besar dalam RKAB Batubara, Produksi Turun PNBP Naik "Tumbuhnya pasar domestik akan mempercepat hadirnya feedstock untuk battery recycling, dan adanya battery recycling akan menumbuhkan rantai nilai penuh yang resilien," ujar Aditya.
Di sisi lain, Aditya mengingatkan adanya risiko bagi ketahanan rantai pasok nasional apabila baterai bekas dari Indonesia terus diekspor dalam jangka panjang. Material yang terkandung di dalam baterai tersebut berpotensi dimanfaatkan kembali oleh negara pengimpor untuk mendukung industri mereka.
"Sebab, baterai yang diekspor tersebut dijadikan sumber daya sekunder oleh negara pengimpor," imbuh Aditya.
Karena itu, pengembangan industri daur ulang baterai dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan rantai pasok industri baterai nasional. Selain membuka peluang pemanfaatan kembali mineral kritis, bisnis ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














