Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia, Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali menembus US$ 100 per barel. Namun, pesta harga tersebut belum membuat perusahaan hulu migas buru-buru membuka investasi baru.
Alih-alih mengejar eksplorasi berisiko tinggi, perusahaan lebih memilih menggenjot produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.
Merujuk Trading Economics pada Kamis (10/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$ 100 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent telah menembus US$ 105 per barel.
Baca Juga: AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya
Kenaikan harga minyak memang menjadi sentimen positif bagi perusahaan hulu migas karena berpotensi mengerek pendapatan dan arus kas.
Namun, lonjakan harga belum cukup untuk mengubah sikap perusahaan menjadi lebih agresif dalam mengucurkan modal, terutama untuk eksplorasi lapangan baru.
Ketua Bidang Investasi & Kerja Sama Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, perusahaan migas cenderung memanfaatkan periode harga tinggi untuk meningkatkan produksi dari aset eksisting.
Strategi ini memungkinkan perusahaan menikmati kenaikan harga dengan risiko yang lebih terukur.
"Mereka memanfaatkan harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi bukan untuk berinvestasi di area yang berisiko," kata Rizal.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus ke US$ 100 per Barel, Prabowo Minta Purbaya Siapkan Antisipasi
Menurut dia, ketika harga minyak tinggi dan arus kas perusahaan meningkat, dana tersebut memang dapat digunakan untuk mendukung berbagai aksi korporasi. Namun, investasi tetap diarahkan pada kegiatan yang memberikan kepastian pengembalian lebih besar.
Kondisi tersebut tercermin dari strategi sejumlah perusahaan migas nasional.
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), misalnya, mencatatkan produksi minyak dan gas sebesar 170 mboepd pada semester I-2026. Angka tersebut meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 143 mboepd.
Chief Financial Officer Medco Energi Internasional Benny Setiawan menilai kombinasi kenaikan harga minyak dan pertumbuhan produksi berpotensi menopang kinerja keuangan perseroan.
"Seiring harga minyak yang membaik di kuartal kedua, serta disiplin biaya yang tetap terjaga, kami cukup percaya diri bahwa hasil keuangan akan lebih baik," kata Benny.
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga melihat kenaikan harga minyak sebagai peluang untuk memperkuat pendapatan dan arus kas. Namun, perseroan tetap berfokus pada optimalisasi produksi dan efisiensi operasional.
Head of Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan perseroan akan mengevaluasi peluang peningkatan produksi melalui pengeboran, workover, maupun program optimasi lainnya dengan mempertimbangkan aspek teknis dan keekonomian.
"Dengan harga minyak yang lebih tinggi, kami akan terus mengevaluasi peluang untuk meningkatkan produksi," kata Herwin.












