kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.335
  • EMAS679.000 -0,29%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Ikuti timah, pengusaha nikel tertarik Pusat Logistik Berikat ICDX

Kamis, 07 Maret 2019 / 08:13 WIB

Ikuti timah, pengusaha nikel tertarik Pusat Logistik Berikat ICDX
ILUSTRASI. Logo Indonesia Commodity & Derivative Exchange

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Setelah melakukan kontrak fisik timah murni batangan, Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) sepertinya akan segera mendapatkan kontrak serupa pada komoditas nikel. Pasalnya, pengusaha nikel juga tertarik untuk memperdagangkan komoditasnya lewat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Ketua Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Insmerda Lebang mengatakan, skema perdangangan melalui PLB dinilai menarik karena akan meningkatkan efisiensi dan lebih terkoordinasi. Sehingga, harga pun diharapkan akan lebih kompetitif dan juga transparan.


"Saya pikir menarik, sebelumnya kan kita (berdagang ekspor) masing-masing. Kalau PLB lebih terkoordinasi dan agar pemasukan tidak bias," katanya saat ditemui di Kantor DPP APNI, Jakarta, Rabu (6/3).

Meski tak mengungkapkan secara detail, tapi Insmerda tak menampik bahwa pihaknya tengah melakukan penjajakan dengan PT ICDX Logistik Berikat terkait penggunaan PLB tersebut. "Sudah ada, kami masih membicarakan," katanya.

Saat dikonfirmasi Kontan.co.id, Presiden Direktur ICDX Logistik Berikat Petrus Tjandra mengatakan, pihaknya optimistis komoditas nikel akan menyusul timah untuk bisa diperdagangkan melalui PLB.

Saat ini, Petrus menyebut bahwa pihaknya bahkan tengah membangun PLB di tiga wilayah, yakni di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, serta Maluku Utara. "Kalau di timah kita bisa, kenapa di sini (nikel) kita nggak bisa? PLB sedang kita siapkan di tiga daerah penghasil nikel terbesar," ujar Petrus.

Petrus tak menyebut nilai investasi yang disiapkan untuk membangun tiga PLB tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa ketiga PLB itu ditargetkan sudah siap beroperasi sebelum bulan Juni tahun ini. "Sedang dalam proses, lokasi kan sudah ada, kita tinggal tunggu gong-nya, mudah-mudahan sebelum bulan Juni sudah ada," terangnya.

Lebih lanjut, Petrus mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua keuntungan ketika komoditas nikel diperdagangkan lewat PLB. Pertama, dengan kehadiran ICDX, perdagangan akan lebih terorganisir adan lebih memberikan kepastian dalam penerimaan negara, seperti pembayaran royalti dan juga kembalinya Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Skema perdagangan ekspor langsung antara penjual dan pembeli yang berlaku saat ini dinilai tidak memiliki kontrol yang baik, karena tidak ada otoritas yang menjamin DHE akan kembali bergulir ke Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir nikel terbesar. "Perlu ada pihak yang memastikan DHE nikel kembali ke Indonesia. Kalau ada bursa, kita pastikan bahwa devisanya harus kembali," ungkapnya.

Adapun, berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun lalu pemerintah mengeluarkan rekomendasi ekspor bijih nikel sebanyak 48,09 juta Wet Metrik Ton (WMT). Sedangkan realisasi ekspor bijih nikel pada tahun lalu tercatat sebanyak 24,33 juta WMT.

Kedua, perdagangan melalui PLB dinilai bisa memberikan harga yang lebih menarik bagi produsen nikel dalam negeri, khususnya untuk pengusaha lokal berskala kecil-menengah. Sebab, selama ini pelaku usaha sering mengeluhkan harga nikel dalam negeri yang rendah, bahkan tak jarang di bawah dari Harga Patokan Mineral (HPM).

Menurut Petrus, hal tersebut tak lepas dari adanya ketimpangan pasar, yang menyebabkan para pengusaha nikel lokal tak memiliki daya tawar yang kuat untuk mendapatkan harga yang kompetitif. Ia pun mengklaim, dengan skema ini, harga akan disepakati secara transparan.Termasuk juga bisa memberikan keamanan dan kepastian terhadap barang yang diperdagangkan.

Dengan hadirnya PLB dalam rantai perdangan komoditas nikel ini, sambung Petrus, ICDX juga bisa memberikan stock financing atau dana talangan ketika harga sedang rendah di tengah pasar yang kelebihan pasokan.

"Misalnya perusahaan nikel sedang butuh duit, kami bisa memberikan semacam dana talangan selama stock file-nya bisa kita kelola, seperti dijaminkan dalam penguasaan PLB," tandas Petrus.

Asal tahu saja, pada Senin (4/3) lalu, ICDX telah meluncurkan kontrak fisik timah murni batangan (ex-warehouse). Fisik timah ini rencananya akan disimpan di gudang PLB yang berlokasi di Bangka Belitung, yang menghilangkan country risk bagi pihak pembeli dan penjual timah.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0451 || diagnostic_web = 0.2477

Close [X]
×