kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Indonesia “kiblat” baru industri muslim dunia


Jumat, 12 Juli 2013 / 20:44 WIB
ILUSTRASI. SPBU Shell Indonesia


Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Hasil pemantauan Prapancha Research (PR) terhadap perbincangan tentang “Idul Fitri” dalam berbagai bahasa di dunia melalui Twitter global selama dua tahun ke belakang (12 Juli 2011–12 Juli 2013), menemukan bahwa dari 3,3 juta perbincangan 1,8 juta (56%) berasal dari Indonesia, ungkap Muhammad R. Nirasma, analis PR.

Jumlah kicauan Indonesia tentang Idul Fitri lebih besar bahkan dibanding seluruh negara di dunia digabungkan. Di urutan kedua adalah Arab Saudi dengan 923 ribu kicauan, dan urutan ketiga Uni Emirat Arab dengan 231 ribu kicauan.

Adapun perbandingan kicauan perihal “puasa” memperlihatkan hasil yang lebih fenomenal. Dari 74 juta kicauan “puasa” dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, 42 juta berasal dari Indonesia. Di urutan kedua adalah Malaysia dengan 6,1 juta kicauan, dan urutan ketiga Arab Saudi dengan 3,97 juta kicauan, ungkap Nirasma.

Sebagaimana yang sudah sering kita dengar, Indonesia oleh berbagai pihak diproyeksikan akan menjadi pusat industri muslim dunia, khususnya busana muslim. Hal ini yang kemudian mendorong PR melakukan telaah singkat dengan membandingkan intensitas kicauan media sosial di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim terkait aktivitas bulan Ramadan. Jumlah kicauan diasumsikan merepresentasikan secara kasar keberadaan kelas menengah suatu negara, lapisan berdaya beli yang merupakan pasar potensial. Juga merepresentasikan antusiasme mereka terhadap aktivitas keagamaan.

Fenomena Twitter yang menempatkan kicauan Indonesia tertinggi ini tak lepas dari jumlah penduduk muslim Indonesia yang sangat besar, serta pertumbuhan ekonomi tinggi, yang membuat akses masyarakatnya ke teknologi menjadi terbuka. Dibandingkan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, Indonesia memiliki GDP tertinggi menurut perhitungan World Bank, yakni $ 878 triliun pada 2012. Diikuti Arab Saudi dengan $ 576 triliun dan Uni Emirat Arab dengan $ 360 triliun.

Namun, di samping menunjukkan posisi perekonomian Indonesia di antara negara-negara dengan jumlah penduduk muslim besar, kicauan tinggi tentang puasa dan Idul Fitri jugamenunjukkan betapa aktivitas sehari-hari masyarakatnya amat termotivasi oleh agama. “Indikasi lainnya, di setiap bulan Ramadan harga-harga selalu naik. Ini menunjukkan aktivitas konsumsi di Indonesia meningkat signifikan mengikuti momen-momen keagamaan,” ujar Nirasma.

Hemat kata, Indonesia sangat potensial untuk menjadi pasar produk-produk muslim. “Industri buku muslim sangat bergairah di tanah air. Demikian juga dengan industri musik rohani, keuangan syariah, motivasi Islami, dan lain-lain,” tambah Nirasma.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan stabil, menjadi pusat busana muslim dunia adalah kemungkinan yang masuk akal. Bahkan menjadi pusat industri-industri muslim lainnya sama sekali tidak mustahil. Hanya saja, menurut Nirasma, Indonesia tak boleh berpangku tangan dan sekadar menjadi konsumen produk luar yang mungkin membanjiri negeri ini.

 “Dalam berbagai hal, kita menjadi konsumen produk asing. Namun kali ini kita harus merebut momentum. Kita bisa memanfaatkan ini untuk bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang punya daya saing di tingkat global, dan menjadi 'kiblat' baru muslim dunia,” ujar Nirasma. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×