kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.925   7,00   0,04%
  • IDX 5.932   -162,05   -2,66%
  • KOMPAS100 765   -20,23   -2,57%
  • LQ45 590   -11,76   -1,95%
  • ISSI 206   -6,52   -3,06%
  • IDX30 329   -5,67   -1,69%
  • IDXHIDIV20 423   -4,08   -0,96%
  • IDX80 87   -2,23   -2,49%
  • IDXV30 115   -1,35   -1,16%
  • IDXQ30 108   -1,16   -1,06%

Industri Film Indonesia Hadapi Tantangan Pemerataan Layar dan Keberlanjutan Bisnis


Senin, 12 Oktober 2026 / 13:08 WIB
Industri Film Indonesia Hadapi Tantangan Pemerataan Layar dan Keberlanjutan Bisnis
ILUSTRASI. Pemulihan Kinerja Pengelola Bioskop Nasional (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perfilman Indonesia masih memiliki peluang tumbuh hingga 2027.

Namun, keterbatasan layar bioskop, persaingan mendapatkan jadwal tayang, serta kebutuhan menjaga kualitas film menjadi sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis perfilman nasional.

Sekretaris Jenderal Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) sekaligus produser Citra Sinema, Zairin Zain, mengatakan industri film Indonesia telah memiliki basis penonton yang cukup kuat.

Pada 2025, film Indonesia meraih sekitar 80,2 juta penonton atau relatif stabil dibandingkan 2024. Untuk 2026, Zairin melihat peluang pertumbuhan penonton masih terbuka. 

Secara indikatif, pertumbuhan sekitar 5%–10% dapat menjadi skenario optimistis, dengan catatan kualitas film, strategi pemasaran, dan akses penayangan semakin baik. Angka tersebut bukan merupakan proyeksi resmi PPFI.

Baca Juga: Industri Film Indonesia Tumbuh, Jumlah Layar Jadi Bottleneck

“Artinya, kita sudah memiliki basis penonton yang kuat, tetapi belum cukup untuk mengatakan pertumbuhan akan terus meningkat secara otomatis,” ujar Zairin kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, pertumbuhan industri tidak cukup diukur dari banyaknya film yang diproduksi. Produser juga perlu memastikan film yang dibuat mampu menjangkau penonton dan menghasilkan bisnis yang sehat.

"Dari sisi produksi, jumlah judul juga berpotensi meningkat, tetapi yang lebih penting bukan sekadar banyaknya film yang dibuat, melainkan berapa banyak yang mampu menjangkau penonton dan menghasilkan bisnis yang sehat," sambungnya.

Salah satu tantangan struktural yang disoroti adalah keterbatasan layar bioskop dan persebarannya yang masih terkonsentrasi di kota-kota tertentu.

Kondisi tersebut membatasi akses masyarakat untuk menonton film di bioskop sekaligus membuat produser harus bersaing memperoleh jadwal dan durasi tayang yang memadai.

Zairin menilai Indonesia membutuhkan ekspansi layar bioskop secara bertahap dan merata.

Dalam jangka panjang, jumlah layar ideal dapat mencapai 10.000–15.000 layar, dengan penambahan yang mempertimbangkan potensi penonton serta kelayakan ekonomi di masing-masing daerah.

Baca Juga: MD Entertaiment (FILM) Perluas Bisnis IP dan Konten Bersama SBS

Namun, ekspansi layar perlu dibarengi pemerataan kesempatan penayangan. Penambahan jumlah layar dinilai belum cukup apabila film-film tertentu masih kesulitan memperoleh jadwal tayang yang proporsional.

PPFI, lanjut Zairin, mendorong transparansi data penonton dan jam tayang serta mekanisme distribusi layar yang lebih adil. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi pasar dan memberikan kesempatan bagi produser untuk bersaing secara sehat.

Dari sisi permintaan, Zairin melihat prospek industri film Indonesia hingga 2027 masih menjanjikan.

Genre horor diperkirakan tetap menjadi salah satu genre kuat, disusul komedi, drama keluarga, dan romansa. Sementara itu, film animasi juga memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Keberhasilan film Jumbo, menurut dia, menunjukkan bahwa film lokal dengan cerita yang kuat dapat menjangkau penonton lintas generasi.

Meski demikian, minat penonton tidak hanya ditentukan oleh genre. Cerita yang menarik, kedekatan emosional, kualitas produksi, kekuatan pemain, dan strategi promosi juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan penonton untuk membeli tiket.

Baca Juga: RAAM Siapkan Rights Issue, Dana untuk Produksi Film dan Ekspansi Bioskop

Karena itu, pelaku industri perlu mengembangkan beragam jenis cerita dan memperkuat ekosistem perfilman, mulai dari pembiayaan, produksi, distribusi, hingga eksibisi.

Bagi PPFI, tantangan ke depan bukan hanya menghasilkan film yang sukses di box office, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha, memperluas kesempatan bagi produser, dan meningkatkan daya saing film Indonesia di pasar internasional.

"Bagi PPFI, prioritasnya adalah memastikan industri film Indonesia bukan hanya menghasilkan film-film yang sukses di box office, tetapi juga memiliki keberlanjutan usaha, kesempatan yang lebih merata bagi produser, dan daya saing di pasar internasional," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×