kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.917   -11,00   -0,06%
  • IDX 6.199   79,73   1,30%
  • KOMPAS100 798   9,81   1,24%
  • LQ45 610   7,17   1,19%
  • ISSI 217   4,13   1,94%
  • IDX30 339   2,82   0,84%
  • IDXHIDIV20 432   2,95   0,69%
  • IDX80 91   1,18   1,31%
  • IDXV30 118   1,56   1,34%
  • IDXQ30 110   0,60   0,54%

Industri Hadapi Kenaikan Harga Gas, Pemerintah Dorong LNG Storage


Selasa, 06 Oktober 2026 / 14:24 WIB
Industri Hadapi Kenaikan Harga Gas, Pemerintah Dorong LNG Storage
ILUSTRASI. Kementerian ESDM (Kementerian ESDM/Kementerian ESDM)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri nasional menghadapi tekanan dari kenaikan harga gas dan keterbatasan pasokan gas domestik. 

Pemerintah pun menilai penguatan infrastruktur liquefied natural gas (LNG) storage diperlukan untuk menjaga pasokan energi di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pasokan bahan baku dan energi menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi dalam pengembangan industri nasional.

Baca Juga: Era Kecerdasan Buatan, Qualcomm Memperluas Pasar Chipset Snapdragon

Menurutnya, kebutuhan gas untuk sektor tertentu tidak seluruhnya dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri. Di saat yang sama, harga gas juga mengalami kenaikan.

"Dari pasokan gas kita ketahui bahwa harga gas sudah meningkat dan harga gas untuk kebutuhan tertentu tidak semuanya bisa dipasok di dalam negeri. Oleh karena itu LNG storage itu diperlukan untuk mensuplai kebutuhan energi di dalam negeri," ujar Airlangga saat ditemui di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026). 

Ia menjelaskan, kebutuhan LNG storage menjadi penting untuk memastikan ketersediaan energi ketika pasokan gas domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri.

Selain persoalan pasokan, Airlangga mengatakan pelaku industri juga menghadapi tuntutan dari pasar global untuk menggunakan energi yang berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan. 

Kondisi ini membuat kebutuhan energi industri tidak hanya menyangkut kecukupan pasokan, tetapi juga asal sumber energinya.

Pemerintah, lanjut Airlangga, terus mendorong penguatan industri domestik di tengah tekanan perdagangan global. Salah satunya dengan memastikan rantai pasok bahan baku dan energi tetap terjaga agar industri nasional mampu mempertahankan daya saing.

Tekanan tersebut semakin relevan seiring kebijakan perdagangan sejumlah negara yang mulai memasukkan aspek emisi karbon dalam perdagangan. Uni Eropa, misalnya, menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism  (CBAM) terhadap sejumlah produk dengan intensitas karbon tinggi.

Oleh karena itu, penguatan infrastruktur energi perlu berjalan beriringan dengan transisi menuju energi yang lebih rendah karbon. 

Baca Juga: DEN Sebut Ekspor Nikel Tembus US$ 26 Miliar hingga Agustus, Ini Proyeksi 2026

Pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi surya dan pengembangan ekosistem energi baru terbarukan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×