kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Industri Kaca Siap Serap Lonjakan Permintaan di Tengah Diversifikasi Kemasan


Rabu, 22 April 2026 / 17:37 WIB
Industri Kaca Siap Serap Lonjakan Permintaan di Tengah Diversifikasi Kemasan
ILUSTRASI. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kemasan berbahan kaca nasional bersiap memanfaatkan peluang dari kebijakan pemerintah yang mendorong diversifikasi bahan baku kemasan untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik.

Ketua Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry T. Susanto mengatakan, pelaku industri kaca siap menampung limpahan permintaan jika terjadi konversi penggunaan kemasan dari material lain ke kaca.

“Utilisasi anggota kami masih di 73%, sehingga masih ada kapasitas lebih untuk memenuhi perubahan ini,” ujar Henry kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).

Henry menilai, pergeseran tersebut akan menjadi angin segar bagi industri kaca nasional. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir terjadi peralihan penggunaan botol kaca ke plastik jenis PET, terutama pada minuman berkarbonasi dan teh.

Baca Juga: Dexa Perluas Program Cek Kesehatan

“Sekarang kami siap menampung kembalinya industri minuman dalam penggunaan botol kaca,” tambahnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong diversifikasi bahan kemasan sebagai respons atas tekanan pasokan dan kenaikan harga plastik, yang dipicu konflik di Timur Tengah. Kebutuhan industri kemasan domestik saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pemerintah menyiapkan sejumlah alternatif bahan kemasan, mulai dari kertas hingga kaca.

Menurutnya, kemasan berbasis kertas menjadi salah satu fokus utama. Saat ini, porsi kemasan kertas mencapai sekitar 28% dari total industri kemasan, sementara kemasan fleksibel berbasis plastik masih mendominasi hingga 48%.

“Kertas ini sebenarnya sudah dikenal dan banyak digunakan, misalnya untuk susu dan berbagai produk minuman,” ujarnya di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (21/4).

Putu menambahkan, pemerintah juga aktif mempertemukan produsen dan pengguna melalui skema business matching guna mempercepat adopsi kemasan non-plastik. Ia menilai, momentum ini menjadi peluang besar bagi industri kertas domestik untuk tumbuh.

Di sisi lain, penggunaan kemasan kaca di dalam negeri saat ini masih relatif kecil, yakni sekitar 2%–3%. Kemenperin menargetkan porsi tersebut dapat meningkat menjadi 5%–6% untuk mendorong kinerja industri kaca nasional.

Meski demikian, Putu mengakui kemasan ramah lingkungan belum sepenuhnya dapat menggantikan plastik, khususnya untuk produk makanan dan minuman. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan material dalam menahan air, minyak, serta ketahanan terhadap panas.

Selain itu, alternatif berbasis bahan hayati seperti singkong, rumput laut, dan serat tumbuhan juga mulai dikembangkan. Namun kapasitas produksinya masih terbatas, yakni sekitar 30.000–35.000 ton per tahun, sehingga penggunaannya masih bersifat spesifik.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin Merijanti Punguan Pitaria menambahkan, industri juga dapat beralih ke kemasan aseptik berbasis kertas yang tidak memerlukan rantai pendingin.

Menurutnya, meskipun harga kemasan aseptik relatif lebih tinggi, efisiensi dari sisi energi dan distribusi membuat biaya secara keseluruhan tetap kompetitif.

“Produknya cukup stabil, bisa disimpan pada suhu ruang, dan masa simpannya lebih panjang dibandingkan tanpa kemasan aseptik,” jelasnya.

Merijanti menyebutkan, kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri saat ini mencapai 21 miliar kemasan per tahun, dengan tingkat utilisasi sekitar 50%. Artinya, masih tersedia ruang besar untuk peningkatan penggunaan di dalam negeri.

Baca Juga: Alfamart (AMRT) Rilis Produk Totebag Kolaborasi dengan Anne Avantie, Segini Harganya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×