kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.887   -13,00   -0,08%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Ini tantangan bisnis keramik Arwana kuartal I


Senin, 04 Mei 2015 / 19:30 WIB
Ini tantangan bisnis keramik Arwana kuartal I
ILUSTRASI. Film Past Lives dan beberapa film Asia populer lainnya dari Studio A24 yang disutradarai oleh sutradara Asia.


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Kinerja keuangan perusahaan keramik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) menurun pada triwulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Berbagai tekanan seperti suku bunga acuan pinjaman perbankan yang tinggi, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, serta tingginya harga gas alam menjadi faktor penurunan kinerja perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan ARNA, penjualan neto perusahaan pada periode Januari-Maret sebesar Rp 358,97 miliar. Catatan tersebut menurun 12,18% dibanding kuartal pertama tahun lalu yang sebesar Rp 408,77 miliar.

Setelah dikurangi beban pokok penjualan tahun ini yang sebesar Rp 252,59 miliar, dan berbagai beban lain, laba bersih perusahaan juga terkoreksi. Pada triwulan pertama tahun ini laba bersih perusahaan sebesar Rp 39,60 miliar, merosot nyaris setengahnya atau 48,72% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 77,87 miliar.

Rudy Sujanto, Corporate Secretary dan Direktur ARNA mengatakan pada triwulan pertama tahun ini industri keramik mengalami berbagai tantangan. "Berpotensi menghambat pencapaian target pertumbuhan penjualan keramik Indonesia," ujar Rudy pada KONTAN, Minggu (3/4).

Ada tiga tantangan. Pertama, terhambatnya industri properti karena tingkat suku bunga yang masih tinggi. Tingkat bunga acuan Bank Indonesia saat ini di 7,5%.

Yang kedua, tren depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menjadi tambahan beban bagi biaya produksi keramik. Ketiga, industri keramik harus membeli harga gas alam yang cukup mahal sebesar US$ 8,5 per mmbtu - US$ 10 per mmbtu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×