kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Insentif Harga Gas Bumi Dinilai Membawa Dampak Positif Bagi Produsen Pupuk


Senin, 06 Februari 2023 / 13:15 WIB
Insentif Harga Gas Bumi Dinilai Membawa Dampak Positif Bagi Produsen Pupuk
ILUSTRASI. Implementasi harga gas bumi tertentu (HGBT) memiliki dampak positif pada kinerja produsen pupuk. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) Achmad Tossin Sutawikara menyebut, implementasi harga gas bumi tertentu (HGBT) sebesar US$ 6 per juta british thermal unit (mmbtu) memiliki dampak positif pada kinerja produsen pupuk. Produksi pupuk nasional pun konsisten meningkat bahkan di tengah dampak pandemi Covid-19.

“Produksi kami naik sejak tahun 2017 sampai sekarang. Peningkatannya cukup signifikan," jelas Tossin dalam siaran pers, Sabtu (4/2).

Tossin juga menyampaikan bahwa implementasi HGBT atau penyaluran gas murah, khususnya kepada industri pupuk, sejak tahun 2020 relatif berjalan lancar kepada lima anggota APPI. Di antaranya adalah Pupuk Kaltim, Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang, Pupuk Iskandar Muda, dan Pupuk Sriwidjadja.

Walaupun sesekali mengalami penurunan tekanan gas di waktu tertentu, namun tidak berdampak signifikan pada proses produksi pupuk secara keseluruhan. “Misal ke Petrokimia tekanan gasnya turun, tapi kemudian normal kembali. Artinya, HGBT sangat membantu capaian produksi,” ungkap Tossin.

Baca Juga: Menteri ESDM Beberkan Realisasi Serapan Gas Industri Penerima Manfaat US$ 6 per MMBTU

Senada, Direktur Portofolio & Pengembangan Usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) Jamsaton Nababan mengatakan, kebijakan gas murah atau HGBT juga berhasil meningkatkan efisiensi industri pupuk. Produksi pupuk dan non-pupuk di lingkungan Pupuk Indonesia grup naik dalam dua tahun terakhir.

Sebelum dapat insentif gas murah, produksi Pupuk Indonesia tercatat sekitar 18,91 juta ton pada 2019. Setelah dapat insentif, produksi Pupuk Indonesia naik sekitar 600.000 ton menjadi 19,51 juta ton pada tahun 2021.

Peningkatan produksi tersebut merupakan hasil dari efisiensi yang dilakukan pada pabrik eksisting Pupuk Indonesia. Efisiensi dilakukan dengan mengganti pabrik tua yang boros dalam konsumsi gas dengan pabrik baru yang lebih efisien dalam konsumsi gas. Alhasil, dengan volume konsumsi gas yang sama, pabrik dapat memiliki kemampuan produksi yang lebih banyak.

Selain efisiensi terhadap pabrik eksisting, Pupuk Indonesia juga akan menambah kapasitas dengan pengoperasian pabrik baru. Dalam waktu dekat, Pupuk Indonesia akan meresmikan pabrik pupuk NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Lhokseumawe, Aceh, dengan kapasitas produksi 500.000 ton per tahun.

Selain itu, terdapat proyek pabrik Pupuk Pusri 3B dengan kapasitas produksi pupuk urea 907.500 ton per tahun. Pabrik ini akan menggantikan pabrik pupuk Pusri 3 dan 4 yang sudah kurang efisien konsumsi gasnya. Saat ini, proyek Pusri 3B masih dalam tahan evaluasi biding dokumen peserta tender dan diharapkan selesai pada pertengahan tahun 2023.

Baca Juga: Evaluasi Aturan Gas Industri, Dirjen Migas: Tidak Ada Rencana Naikkan Harga Gas

Ada juga rencana pengembangan kawasan industri pupuk di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton. Proyek ini sekaligus menjadi proyek grass root dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Papua.

“Jadi hitungan kami kalau sekarang kapasitas produksi Pupuk Indonesia 13,97 juta ton, maka pada tahun 2030 setelah proyek tadi selesai akan menjadi 16,87 juta ton, atau naik sekitar 3 juta ton,” ungkap Jamsaton.

Terkait isu harga pupuk yang mahal, Jamsaton menyebut bahwa hal tersebut merupakan dampak perang Rusia-Ukraina. Sebab, Rusia merupakan produsen dan pemasok bahan baku pupuk dunia.

“Gara-gara perang semua bahan baku diembargo, termasuk fosfat dan potassium. Jadi bukan hanya soal harga, melainkan bahan bakunya yang tidak ada di pasar,” jelas Jamsaton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×