kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.783   -127,00   -0,71%
  • IDX 6.404   -5,94   -0,09%
  • KOMPAS100 842   -2,72   -0,32%
  • LQ45 639   -1,67   -0,26%
  • ISSI 222   0,30   0,13%
  • IDX30 358   -1,16   -0,32%
  • IDXHIDIV20 436   -1,69   -0,39%
  • IDX80 96   -0,30   -0,32%
  • IDXV30 120   -0,34   -0,28%
  • IDXQ30 114   -0,63   -0,55%

Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64%, Asita: Kunjungan Wisatawan Jadi Pemicu


Senin, 10 Agustus 2026 / 13:51 WIB
Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64%, Asita: Kunjungan Wisatawan Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Kunjungan wisman ke Bali (ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi sektor pariwisata Indonesia tumbuh dua digit pada semester I-2026. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat realisasi investasi pariwisata mencapai Rp 39,68 triliun, naik 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan investasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi di Indonesia. Kondisi itu turut meningkatkan daya tarik sektor pariwisata bagi investor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan, meningkatnya kunjungan wisatawan membuat Indonesia semakin menarik bagi investor di bidang pariwisata. Kenaikan kunjungan tersebut kemudian mendorong kebutuhan terhadap berbagai fasilitas pariwisata.

"Peningkatan investasi tersebut biasanya dipengaruhi adanya kebutuhan yang meningkat yang disebabkan naiknya permintaan wisatawan," kata Budijanto kepada Kontan, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Transnusa Mulai Terbang Jakarta-Bangkok, Bidik Keterisian Penumpang 75%

Menurut Budijanto, investasi pariwisata saat ini banyak tertumpu pada sektor properti, seperti hotel, klub, dan kawasan wisata. Investasi tersebut membuat kebutuhan fasilitas wisata dapat semakin terpenuhi seiring meningkatnya permintaan wisatawan.

Namun, pertumbuhan investasi tersebut belum banyak berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di biro perjalanan wisata. Pasalnya, investasi yang masuk lebih banyak menyasar pembangunan properti dan kawasan wisata dibandingkan bisnis perjalanan.

"Investasi pariwisata kebanyakan tertumpu pada properti baik itu hotel, club ataupun kawasan wisata jadi tidak memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja di biro perjalanan," ujarnya.

Bagi biro perjalanan wisata dan operator perjalanan, dampak investasi lebih banyak dirasakan secara tidak langsung melalui bertambahnya fasilitas yang dibutuhkan wisatawan. 

Bertambahnya hotel, kawasan wisata, dan fasilitas pendukung dapat memperluas pilihan produk yang ditawarkan kepada wisatawan.

Meski demikian, Asita masih optimistis terhadap prospek bisnis pariwisata. Budijanto menilai pertumbuhan bisnis pariwisata akan terus meningkat apabila kondisi usaha tetap kondusif dan semakin banyak kawasan wisata baru yang berkembang.

"Jika situasi yang kondusif tetap terjaga serta semakin banyak tumbuhnya kawasan wisata baru, prospek pertumbuhan bisnis pariwisata diyakini akan terus meningkat," imbuh Budijanto.

Baca Juga: Ekspor Nikel Indonesia Terancam Menciut hingga 5 Juta Ton pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×