Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kereta Api Indonesia (KAI) semakin agresif mengembangkan bisnis non-angkutan melalui pemanfaatan ekosistem transportasi sebagai media periklanan dan aktivasi merek. Langkah ini sejalan dengan tren global transit and mobility media yang memanfaatkan tingginya mobilitas masyarakat urban sebagai saluran komunikasi bagi pelaku usaha.
Melalui anak usahanya, PT KAI Wisata, perseroan mengoptimalkan aset stasiun dan rangkaian kereta sebagai media promosi yang menjangkau ratusan juta penumpang setiap tahun.
Direktur Utama KAI Wisata Raden Agus Dwinanto Budiadji mengatakan KAI saat ini mengelola aset seluas 270 juta meter persegi yang tersebar di 629 stasiun dengan jaringan rel sepanjang 6.957 kilometer.
"Sebagai anak usaha KAI, kami memaksimalkan aset-aset ini, mulai dari stasiun besar hingga rangkaian kereta, sebagai media branding yang menjangkau lebih dari 430 juta penumpang setiap tahunnya," ujar Agus dalam KAI Media & Brand Experience Summit 2026, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Pengamat Soroti Transformasi KAI, Standar Layanan Disebut Kian Kompetitif
Menurutnya, media yang berada dalam ekosistem transportasi memiliki keunggulan dibanding media luar ruang konvensional karena didukung captive audience dan waktu tunggu penumpang yang relatif panjang.
Penumpang umumnya menghabiskan waktu mulai dari proses masuk stasiun, menunggu keberangkatan, hingga selama perjalanan berlangsung. Kondisi tersebut menciptakan peluang paparan iklan yang lebih lama dan berulang.
Agus menjelaskan, KAI kini tidak hanya menawarkan ruang iklan statis, tetapi juga mengembangkan konsep pengalaman merek atau brand experience yang terintegrasi dengan perjalanan pelanggan.
"Media KAI tidak hanya memberikan visual, tetapi juga pengalaman yang menyeluruh. Kampanye dapat ditempatkan di berbagai titik perjalanan konsumen mulai dari stasiun keberangkatan hingga di dalam rangkaian kereta," katanya.
Untuk memperluas monetisasi aset, KAI menawarkan sejumlah skema kerja sama kepada pemilik merek. Di antaranya melalui hak penamaan atau naming rights untuk stasiun dan kereta, branding pada rangkaian kereta LRT maupun Commuter Line, ruang aktivasi merek di stasiun strategis, hingga penyelenggaraan kegiatan berbasis MICE dan destinasi wisata perkeretaapian.
Baca Juga: KAI Bidik Pendapatan Rp66 Triliun pada 2030, Rel Kereta Tembus 7.000 Km
Perseroan juga telah mengintegrasikan pemasaran aset media tersebut secara digital guna memudahkan proses pemesanan dan pengelolaan kampanye iklan.
Menurut Agus, tren periklanan saat ini bergerak ke arah pemanfaatan data mobilitas dan teknologi digital out of home (DOOH) yang memungkinkan kampanye lebih terukur dan relevan dengan perilaku konsumen.
Sejumlah perusahaan telah memanfaatkan ekosistem KAI sebagai media pemasaran. Di antaranya merek perawatan pria Kahf yang memanfaatkan jaringan transportasi untuk meningkatkan kesadaran merek di segmen anak muda.
Selain itu, aset heritage seperti Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang aktivasi merek premium yang menyasar segmen tertentu.
Agus menilai pengembangan bisnis media transit akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti transportasi.
"Kami ingin aset yang dimiliki tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku usaha," ujarnya.
Dengan tingginya mobilitas masyarakat perkotaan dan pertumbuhan pengguna transportasi publik, KAI melihat peluang bisnis media berbasis perjalanan masih terbuka lebar dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: KAI Genjot Pengadaan 16 Trainset KRL Baru dari INKA, Nilai Kontrak Rp 3,85 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













