Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri ritel kini tidak lagi hanya mengandalkan arus pengunjung, tetapi membutuhkan kawasan dengan ekosistem lengkap yang mampu menciptakan kunjungan berkelanjutan. Konsep mixed-use dengan perpaduan hunian, komersial, dan ruang publik diperkirakan semakin menjadi kunci daya tarik kawasan ritel ke depan.
Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto menyebut pusat perbelanjaan kini berkembang menjadi destinasi gaya hidup melalui kurasi tenant, acara, dan ruang komunal yang menawarkan pengalaman di luar belanja online.
“Mal-mal semakin berperan sebagai pusat gaya hidup dengan penyewa yang lebih terkurasi, acara yang beragam, serta ruang sosial yang tidak tergantikan oleh platform online,” ujar Ferry dalam paparan Quarterly Property Market Report Q1 2026 sektor ritel Jakarta.
Aktivitas penyewaan ritel premium Jakarta tetap berjalan meski kondisi pasar kuartal I 2026 cukup beragam. Penutupan salah satu department store utama di Mal Kelapa Gading 1 membuat tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium meningkat menjadi 4,2%.
Baca Juga: Pakuwon Cetak Pendapatan Rp 3,37 Triliun Semester I, Recurring Income Jadi Penopang
Di sisi lain, ekspansi merek baru terus berlangsung, terutama di sektor makanan dan minuman serta ritel mewah. Menurut Ferry, pelaku usaha masih melihat peluang di Indonesia, tetapi kini lebih selektif dalam memilih lokasi, luas gerai, dan format bisnis.
Ia melihat sektor makanan dan minuman tetap menjadi penggerak utama ritel, disusul pertumbuhan kategori olahraga dan kebugaran seiring meningkatnya minat terhadap gaya hidup sehat. Perubahan perilaku konsumen juga mendorong peritel untuk lebih mengutamakan pengalaman dibanding sekadar menjual produk. “Peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi dengan traffic berkualitas,” kata Ferry
Ferry mengatakan, keramaian saja kini tidak cukup menjamin keberlanjutan bisnis ritel. Pelaku usaha membutuhkan lokasi yang mampu menghadirkan pengunjung dengan kebutuhan relevan, frekuensi kunjungan tinggi, dan durasi tinggal lebih lama.
Baca Juga: Cushman & Wakefield: Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih di Semester I-2026
Permintaan terhadap lokasi berkualitas meningkat di tengah terbatasnya pasokan mal premium. Pada kuartal I 2026, tidak ada tambahan mal premium baru di Jakarta, sementara pasokan mendatang hanya berasal dari dua proyek perluasan, yakni Kota Kasablanka seluas 56.000 meter persegi pada 2029 dan Gandaria City seluas 12.000 meter persegi pada 2030.
Keterbatasan pasokan ini mendorong kenaikan tarif sewa mal premium sebesar 1,09% secara kuartalan, terutama pada pusat perbelanjaan dengan basis pengunjung kuat dan ekosistem tenant yang solid. Meski belum ada transaksi investasi ritel di Jakarta pada periode tersebut, merek internasional tetap berekspansi melalui kemitraan dengan grup ritel lokal.
Serpong CBD Perkuat Ekosistem
Tren kawasan terintegrasi tercermin dalam pengembangan Serpong CBD oleh Summarecon Serpong yang memadukan hunian, pendidikan, ruang terbuka, kuliner, olahraga, dan fasilitas mobilitas. Saat ini, kawasan tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 keluarga, didukung sekitar 2.000 unit ruko serta berbagai destinasi.
Ekosistem ini akan diperkuat melalui kehadiran The Hood, kawasan komersial lakeside retail neighborhood seluas sekitar 10 hektare yang ditargetkan beroperasi pada Desember 2026 dengan lebih dari 50 tenant.
Selain itu, Summarecon Serpong menyiapkan Strozzi Commercial di Symphonia Boulevard yang terhubung dengan The Hood dalam jarak berjalan kaki sekitar lima menit. Koridor ini juga akan didukung oleh Sekolah Ekayana Genta Bangsa yang mulai beroperasi pada Juli 2026, sehingga menambah aktivitas rutin kawasan, khususnya pada hari kerja.
Baca Juga: Summarecon Bogor Luncurkan Klaster Premium, Harganya Mulai Rp 3,6 Miliar
Kawasan tersebut juga terhubung dengan SQP Hub dan Zora SPKLU Signature, yang melayani sekitar 400 kendaraan per hari berdasarkan data pengembang. Aktivitas pengisian daya kendaraan listrik menciptakan pola kunjungan baru karena pengguna menghabiskan waktu selama proses charging, sehingga membuka peluang bagi bisnis F&B, ritel kebutuhan harian, layanan personal, dan jasa lainnya.
Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur menyampaikan bahwa pelaku usaha kini tidak hanya mempertimbangkan lokasi strategis, tetapi juga melihat kualitas aktivitas dalam kawasan. Menurutnya, perpaduan fungsi hunian, pendidikan, pekerjaan, olahraga, dan rekreasi menjadi faktor penting dalam membentuk ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
“Ketika orang datang untuk tinggal, belajar, bekerja, berolahraga, atau sekadar menghabiskan waktu, aktivitas bisnis biasanya ikut terbentuk. Itu yang terus kami bangun di Serpong CBD,” ujar Albert dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).
Strozzi Commercial menawarkan unit berukuran 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter yang dirancang untuk berbagai usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional. Setiap unit dilengkapi mezzanine, didukung akses jalan dengan ROW 36 meter dan 32 meter, serta konsep double-layer parking.
Pengembang menyediakan opsi serah terima bare maupun finish, sehingga tenant dapat menyesuaikan desain interior dan kebutuhan operasional. Dipasarkan mulai sekitar Rp4 miliar, Strozzi Commercial menjadi bagian dari ekosistem Serpong CBD yang mengintegrasikan aktivitas, aksesibilitas, dan destinasi dalam satu kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
