kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kalbe Farma: Penguatan rupiah mampu turunkan harga bahan baku farmasi sampai 2,5%


Selasa, 12 Februari 2019 / 12:57 WIB
Kalbe Farma: Penguatan rupiah mampu turunkan harga bahan baku farmasi sampai 2,5%


Reporter: M Imaduddin | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan rupiah beroptensi mendatangkan sentimen positif bagi emiten farmasi seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Pasalnya, dengan penguatan rupiah tersebut, harga bahan baku pembuatan produk farmasi akan turun. 

Sebagai catatan, sekitar 70% persen bahan baku yang digunakan industri farmasi dalam negeri masih harus didatangkan secara impor. Vidjongtius, Direktur Utama Kalbe Farma mengungkapkan kalau penguatan rupiah terhadap dollar AS sekitar 7% bisa menurunkan harga pokok sebesar 2%-2,5%.

"Berdampak positif kalau penguatannya berlangsung cukup lama, sehingga harga pokok bisa turun 2% sampai 2,5% kalau penguatan sekitar 7%," jelas Vidjongtius kepada Kontan.co.id, Selasa (12/2) siang.

Sebagai catatan, menurut data Bloomberg, secara year to date kurs rupiah menguat 2,24% terhadap dollar AS.

Penguatan rupiah ini diyakini Vidjongtius mampu mempengaruhi kinerja emiten pada kuartal I di 2019 ini. Kendati begitu, ia belum bisa memberikan rincian angkanya. "Kami lihat tren penjualannya lumayan baik, kami terus amati di Februari dan Maret ini. Rilis angkanya nanti setelah kuartal I 2019 lewat," tuturnya.

Sejauh ini, emiten berkode saham KLBF tersebut masih berfokus untuk mengerek penjualan dengan melakukan perluasan jaringan distribusi, pemasaran produk baru, serta aktivitas melalui komunitas-komunitas.

"Kami lakukan aktivitas produk melalui komunitas dan digital, seperti komunitas peduli kanker, ginjal, dan lain-lain," tambah Vidjongtius.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×