kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kapan waktu tepat untuk berwirausaha?


Rabu, 08 Oktober 2014 / 09:39 WIB
ILUSTRASI. Cara Mengatasi Anoreksia Secara Tepat


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Menurut pebisnis Budi Satria Isman, tidak ada batasan waktu yang tepat untuk mulai berwirausaha. Para pengusaha, atau yang kini lebih dikenal dengan istilah entrepreneur, seharusnya langsung terjun dan fokus berusaha tanpa perlu ragu.

Bagi yang belum akrab dengan nama Budi Satria Isman, dia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Coca Cola Indonesia, serta Presiden Direktur PT Sari Husada. Budi kini juga menjadi Dewan Pembina Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Mandiri.

Ketika bertandang ke kantor KOMPAS.com, Senin (6/10), Budi mengungkapkan pertanyaan yang pernah dilontarkan salah satu karyawan perusahaan berskala internasional. Pertanyaannya seperti ini, "Kapan sebaiknya kami berwirausaha? Saya sudah punya usaha, tapi masih mendua hati ini. Pekerjaan masih ada, takut melepaskan pekerjaan karena ini tidak pasti."

Sembari tertawa, Budi mengungkapkan bahwa tidak akan ada waktu yang tepat.

"Langsung saya bilang, hari ini. Malam ini you buat resignation letter, you kasih itu ke direksinya. Tidak ada waktu yang tepat, kemarin seharusnya. Ini masalahnya keinginan saja. Kalau you mau, ya harusnya kemarin. Kalau you nggak mau, ya nggak apa-apa juga. Bukan berarti nggak bagus. Cuma, kalau you berminat, jangan nggak fokus," imbuhnya.

Menurut Budi, apa pun pilihan yang diambil oleh karyawan, sebaiknya sang karyawan benar-benar berkomitmen pada pilihannya. Dia menekankan, tidak masalah tetap bekerja sebagai karyawan sembari menjalankan usaha. Namun, hasilnya tidak akan sefokus jika hanya mengerjakan satu hal.

"Karir kita mentok jadinya karena tidak fokus, yang di sini juga bisnisnya biasa-biasa saja. Akhirnya jadi orang biasa-biasa saja," pungkasnya. (Tabita Diela)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×