Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) menyiapkan sejumlah strategi dalam menghadapi berbagai tekanan biaya pada 2026. Kondisi ini menyusul situasi geopolitik global yang turut memengaruhi perekonomian Tanah Air.
Direktur Utama Mulia Boga Raya, Indrasena Patmawidjaja memaparkan bahwa tantangan ekonomi sudah dirasakan industri sejak tahun lalu, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang turut berdampak terhadap kenaikan harga sejumlah bahan baku.
Namun demikian, Mulia Boga Raya berhasil menghadapi tantangan tersebut dan mampu mencatatkan performa positif, baik dari sisi top line maupun bottom line.
Pada 2025, KEJU tercatat membukukan penjualan bersih sebesar Rp 1,50 triliun, lebih tinggi 19% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya senilai Rp 1,26 triliun.
Baca Juga: Ancaman Siber Meningkat, Kecerdasan Buatan Mengubah Hacker Jadi Lebih Canggih
Dari sisi bottom line, laba bersih perusahaan mampu bertumbuh 22% menjadi Rp 179,45 miliar, dari laba bersih 2024 yang tercatat Rp 146,88 miliar.
“Kalau kita lihat melemahnya rupiah tahun lalu pun sudah terjadi, dan di sana memang kami dapat melihat efisiensi yang lebih baik, yang kalau dilihat secara profit pun juga cukup baik, jadi seimbang kalau kita lihat performa 2025 secara grafis,” ungkap Indrasena, dalam Paparan Publik Virtual, Selasa (21/4/2026).
Di tengah tekanan biaya yang terjadi, manajemen KEJU menegaskan tidak menjadikan kenaikan harga sebagai opsi utama. Hal tersebut sejalan dengan visi utama perusahaan untuk menjadikan keju sebagai produk yang terjangkau bagi masyarakat luas.
Perusahaan pun cukup optimistis permintaan pasar terhadap produk keju akan masih terjaga dengan semakin luasnya konsumsi keju di berbagai segmen.
“Keju sekarang sudah mulai merambah jadi makanan sehari-hari dalam apa pun, mau bentuk bakso, cilok, martabak sudah pasti, bentuk roti, maupun di restoran kami juga sudah mulai penetrasi,” sebutnya.
Lonjakan Harga Kemasan Plastik dan Bahan Baku Impor
Dari sisi biaya, tekanan terbesar yang terjadi pada 2026 adalah lonjakan harga kemasan plastik yang disebut mencapai lebih dari 50%, serta bahan baku impor yang terdampak pelemahan rupiah dan gangguan pasokan global.
Selain itu, konflik geopolitik global turut menghambat kelancaran rantai pasok, khususnya untuk bahan baku yang berasal dari Eropa.
“Kami juga sudah siap dengan mitra-mitra yang ada di region, di sekitar Asia atau New Zealand, Australia, yang bisa mengimbangkan situasi sekarang,” jelas manajemen.
Sebagai upaya mempertahankan kinerja ke depan, KEJU menekankan inovasi sebagai kunci menjaga daya saing, tidak hanya dari sisi peluncuran produk tetapi juga proses dan material.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













