Reporter: Zendy Pradana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) mengatakan biaya produksi Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) mengalami efisiensi anggaran. Hal tersebut terjadi karena meluasnya dampak perang Timur Tengah (Timteng).
Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo menjelaskan saat ini perusahaan AMDK mulai melakukan efisiensi biaya produksi. Hal itu dilakukan karena adanya peningkatan pada harga bahan baku kemasan.
"Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah yang mendorong peningkatan harga minyak global," ujar Karyanto Wibowo kepada Kontan, Minggu (15/3/2026).
Baca Juga: Strategi Dharma Polimetal (DRMA) Kejar Target Pertumbuhan Penjualan 10% pada 2026
Karyanto menjelaskan bahwa biaya bahan baku kemasan akan ikut meningkat seiring peningkatan harga minyak global. Pasalnya bahan baku kemasan, bahan utama produksinya adalah minyak bumi.
"Minyak sendiri merupakan bahan baku utama dalam produksi kemasan plastik seperti botol atau galon yang digunakan industri AMDK, sementara kemasan plastik merupakan komponen biaya terbesar dalam struktur biaya industri AMDK," kata Karyanto.
Karyanto menuturkan jika minyak bumi mengalami kenaikan harga maka turunannya sudah pasti akan meningkat. "Harga IPA (isopropil alcohopl) juga sensitif terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok petrokimia," ucapnya.
IPA berbahan baku turunan minyak bumi, apabila kenaikan minyak bumi 60% maka diprediksi kenaikan Harga IPA bisa sekitar 25%–35%.
"Semua komponen bahan baku industri AMDK yang merupakan turunan minyak bumi pasti akan naik dan akan membuat kita melakukan efisiensi produksi, agar tetap kompetitif," kata Karyanto.
Kemudian, Amdatara memprediksi kenaikan biaya kemasan industri AMDK meningkat hingga 45%. "Kenaikan biaya kemasan untuk industri AMDK kurang lebih 35%-45%," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













