Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) memilih menahan harga jual kendaraan meskipun menghadapi tekanan kenaikan biaya bahan baku, termasuk plastik, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Chief Operating Officer HMID Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, hingga saat ini Hyundai belum berencana menaikkan harga meski terdapat sejumlah komponen biaya yang meningkat.
“So far walaupun di luar dari harga plastik terus kemudian exchange rate kita juga perhatikan di atas Rp 17.000, ada beberapa faktor yang juga naik tapi Hyundai bisa mempertahankan sampai dengan saat ini dan kami tidak ada niat untuk menaikkan harga gitu. Dan kami akan tetap memberikan yang terbaik dan tidak ada pressure, istilahnya melakukan cost reduction dan lain sebagainya,” ujarnya usai acara Hyundai Premium Courtesy Car Program di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Penjualan Tetap Stabil, Pangsa Pasar Hyundai Naik Jadi 2,8% di Kuartal I-2026
Menurutnya, kenaikan biaya tersebut diantisipasi dengan berbagai upaya efisiensi, baik di proses manufaktur maupun distribusi. Dengan langkah ini, tambahan biaya tidak dibebankan ke konsumen maupun jaringan dealer.
“Itu mungkin bisa di-absorb dengan beberapa improvement yang dilakukan di dalam manufacture process dan juga di dalam distributor process dan tidak akan membebankan dealer juga,” jelas Fransiscus.
Hyundai juga menegaskan tidak akan melakukan langkah pengetatan biaya secara agresif yang berpotensi mengganggu kualitas produk maupun layanan.
Ia menegaskan, kebijakan menahan harga dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar otomotif nasional di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
"Jadi biar otomotif industri kita tetap stabil. Kalau kita tahun lalu bisa di angka 750.000-850.000 (unit), mudah-mudahan kamis bisa mencapai angka itu kembali," katanya.
Di sisi lain, tekanan terhadap industri otomotif juga datang dari kenaikan harga bahan baku plastik secara global. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku petrokimia akibat eskalasi konflik geopolitik, yang turut mendorong naiknya harga energi.
Baca Juga: Hyundai Andalkan Hybrid dan Layanan Antisipasi Kenaikan BBM
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam sebelumnya mengingatkan potensi kelangkaan bahan baku plastik yang dapat mengganggu produksi berbagai sektor industri, termasuk otomotif.
Ia menilai penting bagi pelaku industri untuk menjaga rantai pasok tetap lancar serta menahan kenaikan harga agar tidak menekan daya beli masyarakat.
Seiring dengan itu, pelaku industri juga didorong untuk meningkatkan efisiensi dan mencari alternatif bahan baku guna meredam dampak kenaikan biaya produksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













