Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga pangan di dalam negeri.
Kendati hingga hampir sepekan konflik berlangsung, harga kebutuhan pokok masih relatif stabil. Risiko lonjakan harga tetap terbuka jika perang berkepanjangan karena kenaikan harga energi dan biaya logistik global.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan pemerintah hingga kini belum melihat dampak signifikan konflik terhadap harga bahan pokok.
Berdasarkan pemantauan melalui sistem harga pangan dan pengecekan di sejumlah daerah, harga serta pasokan kebutuhan pokok masih terkendali.
Budi menjelaskan struktur ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik membuat dampak langsung konflik global terhadap harga pangan relatif terbatas.
“Kalau kita bicara kontribusi terhadap PDB, porsi terbesar berasal dari belanja dalam negeri. Karena itu dampak perang terhadap harga pangan di dalam negeri belum terasa signifikan,” ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: INDEF: Ketergantungan Impor Pangan Tinggi, Konflik Global Bisa Picu Lonjakan Harga
Namun, ia mengakui eskalasi konflik tetap perlu diwaspadai karena berpotensi mengganggu rantai pasok global, terutama jika memengaruhi jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20% konsumsi minyak global.
Sementara itu, Senior Economist Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menyebut kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik biasanya akan merambat ke harga pangan.
Tauhid menjelaskan lonjakan biaya energi dapat meningkatkan ongkos produksi dan distribusi pangan.
“Kalau harga energi naik biasanya harga pangan ikut naik. Apalagi untuk komoditas yang kita impor seperti kedelai dan gandum,” katanya saat ditemui di Hotel Des Indes, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Ia menambahkan ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor masih sangat tinggi sehingga membuat harga pangan berbasis kedelai seperti tempe dan tahu rentan terhadap gejolak global.
Menurut Tauhid, sekitar 70% hingga 80% kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor.
Selain itu, Tauhid juga menilai ketahanan energi nasional masih terbatas. Ia mengatakan cadangan energi Indonesia saat ini hanya cukup sekitar 20 hari dalam kondisi normal.
“Cadangan kita sekitar 20 hari dalam kondisi normal. Dalam situasi krisis seharusnya cadangan itu bisa diperbanyak,” ujarnya.
Baca Juga: Mendag Pastikan Harga Daging Ayam Saat Ramadan Terjaga meski Kini Masih di Atas HAP
Di sisi industri, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah terus memantau eskalasi konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia sekaligus jalur logistik global yang penting.
Agus menjelaskan setiap peningkatan ketegangan berpotensi memicu volatilitas harga energi, mengganggu rantai pasok bahan baku, serta meningkatkan biaya logistik bagi industri.
“Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).
Ia menambahkan kenaikan harga energi dalam jangka panjang dapat meningkatkan biaya produksi industri, termasuk sektor makanan dan minuman yang menggunakan energi serta bahan baku impor. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan bahan baku domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global.
Dengan berbagai risiko tersebut, pemerintah dan pelaku usaha diminta menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari memperkuat cadangan energi, menjaga pasokan pangan impor, hingga memperkuat struktur industri domestik agar tekanan terhadap harga pangan dapat ditekan.
Baca Juga: Ramadan Datang, Beras dan Minyakita Masih Mahal, APPSI Soroti Distribusi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













