kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   -32.000   -1,16%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Pelemahan Rupiah Mulai Picu Kenaikan Harga Produk di Industri Ritel


Sabtu, 06 Juni 2026 / 19:36 WIB
Pelemahan Rupiah Mulai Picu Kenaikan Harga Produk di Industri Ritel
ILUSTRASI. Pelemahan rupiah paksa emiten ritel sesuaikan harga. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan dampak terhadap industri ritel nasional. Sejumlah emiten ritel melakukan penyesuaian harga jual produk menyusul kenaikan biaya dari pemasok yang dipicu oleh meningkatnya harga komponen impor.

Direktur PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), Hady, mengungkapkan bahwa sebagian besar produk yang dijual di gerai perseroan telah mengalami penyesuaian harga. Langkah tersebut dilakukan seiring kebijakan pemasok yang lebih dulu menaikkan harga akibat tekanan biaya.

“Iya, sebagian besar sudah ada penyesuaian harga. Karena dari pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harganya,” ujar Hady dalam agenda paparan publik, Rabu (3/6/2026).

Meski terjadi kenaikan harga, RANC menilai dampaknya terhadap perilaku konsumen masih relatif terbatas. Hal ini karena perusahaan menyasar segmen pasar menengah ke atas yang dinilai memiliki daya beli lebih kuat dibandingkan segmen lainnya.

Namun demikian, perusahaan melihat adanya perubahan pola konsumsi, di mana pelanggan menjadi lebih berhati-hati dan selektif dalam menentukan produk yang akan dibeli.

Baca Juga: Pengusaha Masih Wait and See soal Ekspor SDA Lewat DSI, Ini Alasannya

“Sebenarnya dari segi segmentasi market kita cukup baik, karena segmennya kan menengah ke atas ya. Jadi secara daya beli seharusnya tidak impacted too much, tapi tentu mereka akan lebih wise dalam pemilihan barang,” tambahnya.

Alfamidi Ikuti Kenaikan Harga dari Principal

Fenomena serupa juga dirasakan oleh PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Perseroan menyebut pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai produk ritel, terutama barang yang memiliki kandungan impor seperti susu dan sejumlah bahan pangan.

Finance Director MIDI, Suantopo Po, menjelaskan bahwa kenaikan harga di tingkat ritel tidak dapat dihindari apabila biaya yang ditanggung principal meningkat akibat tekanan nilai tukar.

Menurutnya, mekanisme penyesuaian harga di gerai Alfamidi sepenuhnya mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemasok atau principal.

“Tapi pada prinsipnya apabila principal menaikkan harga, maka otomatis Alfamidi akan menaikkan harga juga. Kita adalah retailer, jadi tidak mungkin tidak ada kenaikan harga. Tapi kenaikan harga kembali tergantung pada principal,” jelasnya.

Kendati menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah, MIDI masih memandang industri ritel sebagai sektor yang relatif defensif. Perseroan optimistis prospek pertumbuhan bisnis tetap terjaga meskipun masyarakat melakukan penyesuaian pola belanja.

Baca Juga: Strategi Keberlanjutan Telkomsel Kini Menyasar Efisiensi dan Ekspansi Layanan

Kinerja RANC dan MIDI Tetap Bertumbuh

Di tengah tantangan nilai tukar, kedua emiten ritel tersebut masih mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I-2026.

PT Supra Boga Lestari Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp 823,45 miliar pada kuartal I-2026, meningkat 9,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan juga berhasil membalikkan kinerja menjadi laba dengan mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 7,17 miliar, dari sebelumnya mengalami rugi Rp 5,21 miliar pada kuartal I-2025.

Sementara itu, PT Midi Utama Indonesia Tbk mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp 5,88 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 6,43% dibandingkan Rp 5,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat signifikan sebesar 39,5% menjadi Rp 265,5 miliar, dibandingkan Rp 190,3 miliar pada kuartal I-2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×