kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Kementan Kejar Produksi Susu Lokal, Andalkan Impor Sapi Perah untuk Dukung MBG


Minggu, 07 Juni 2026 / 20:36 WIB
Kementan Kejar Produksi Susu Lokal, Andalkan Impor Sapi Perah untuk Dukung MBG
ILUSTRASI. Mengenal Susu Grass-fed: Pilihan Terbaik untuk Penuhi Gizi Harian Orang Dewasa (Dok/Fonterra)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan produksi susu nasional melalui penambahan populasi sapi perah dan peningkatan konsumsi susu masyarakat guna menopang pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Hanya saja, di tengah ambisi tersebut, pemerintah mengakui masih tingginya ketergantungan pada impor susu dan terbatasnya populasi sapi perah dalam negeri.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan pemerintah saat ini memfokuskan kebijakan pada dua agenda utama, yakni meningkatkan produksi susu nasional dan mendorong konsumsi susu, terutama di kalangan anak-anak.

"Tentu saja sekarang ada MBG. Produksi susu kita memang masih ada sebagian yang impor. Nah, kita ingin tingkatkan dua hal. Yang pertama adalah bagaimana meningkatkan produksi susu dengan lebih banyak sapi perahnya. Yang kedua adalah meningkatkan konsumsi susu per kapita untuk anak-anak kita khususnya," ujar Sudaryono saat peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga: Pelaku Koperasi Susu Soroti Mahalnya Biaya Energi dan Harga Sapi Impor

Menurut Sudaryono, peningkatan konsumsi susu menjadi bagian dari strategi pemerintah memperbaiki kualitas gizi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju target Indonesia Emas 2045. 

Ia menilai susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak.

Di sisi hulu, pemerintah menghadapi tantangan besar berupa minimnya jumlah sapi indukan, khususnya sapi perah.

Meski teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit dinilai memadai, jumlah ternak hidup dinilai masih jauh dari kebutuhan untuk mengejar peningkatan produksi susu domestik.

"Kita ini kurang sapi induknya. Kalau sperma kemudian bank spermanya kita sudah punya banyak. Baik daging maupun susu, yang kurang itu adalah sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan," kata Sudaryono.

Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah mendorong masuknya investasi swasta dan BUMN untuk mendatangkan sapi perah dari luar negeri. 

Sejumlah investor disebut telah menyampaikan komitmen pengadaan sapi perah dalam jumlah besar, mulai dari 5.000 hingga 10.000 ekor.

Baca Juga: Hilirisasi Sapi Perah Didorong, GKSI Sebut Perlu Dibarengi Penguatan Sisi Hulu

Pemerintah juga menjajaki pengembangan sapi perah tropis dari Brasil yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi iklim Indonesia. 

Selain itu, pengembangan peternakan sapi perah akan difokuskan di wilayah dataran tinggi seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan, dan Blitar yang memiliki suhu lebih sesuai untuk produktivitas ternak.

Untuk mempercepat realisasi target tersebut, pemerintah memilih skema investasi ketimbang pembelian sapi menggunakan anggaran negara. 

Indonesia, kata Sudaryono, telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Australia, Brasil, Selandia Baru, Denmark, dan beberapa negara Eropa untuk mendorong investasi di sektor peternakan sapi perah dan sapi pedaging.

"Negara tidak mengeluarkan APBN untuk beli sapi. Yang kita lakukan adalah memberikan kemudahan berusaha, perizinan, dan berbagai insentif supaya orang mau berinvestasi menempatkan sapi perah maupun sapi pedaging di Indonesia," ujarnya.

Sudaryono optimistis sektor persusuan nasional dapat berkembang lebih cepat seiring adanya pasar yang relatif terjamin melalui program MBG.

Baca Juga: Danone SN Perkuat Bisnis Ritel Nutrisi lewat Flagship Store Raja Susu di PIK 2

Menurutnya, kebutuhan susu untuk mendukung program tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang ingin masuk ke industri persusuan nasional.

"Ingat, ada satu kelebihan yaitu ada captive market namanya MBG. Makanya saya optimistis sektor persusuan Indonesia akan berkembang jauh lebih cepat ke depan," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×