Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah menjadi kunci untuk mendorong pasokan susu nasional. Namun, fluktuasi harga sapi hingga energi saat ini dinilai menjadi penghambat.
Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Yusup Munawar mengatakan, meningkatnya kebutuhan susu nasional dan tumbuhnya minat investasi sapi perah turut mengerek potensi peningkatan populasi.
Namun, saat ini Yusup menilai harga sapi impor yang terus naik menjadi salah satu tantangan utama. "Sementara, ketersediaan bibit sapi di negara asal seperti Australia juga semakin terbatas," ujarnya kepada Kontan, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Pengamat: Optimalisasi CNG Lebih Efisien dari Beban Subsidi Rp 87 Triliun Per Tahun
Ditambah, lanjutnya, ketidakpastian kondisi global saat ini juga memicu peningkatan biaya energi. Di mana, hal ini turut memengaruhi biaya investasi yang perlu digelontorkan.
Itu sebabnya, Yusup menegaskan pemerintah perlu membantu dalam menjembatani kemitraan antarpelaku usaha, yakni swasta, koperasi, hingga peternak dalam penambahan populasi sapi perah. Ini termasuk melalui impor sapi produktif dan bibit berkualitas.
Selain penambahan populasi melalui impor, ia menyoroti bahwa penguatan breeding nasional juga krusial agar Indonesia memiliki sumber bibit unggul yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Menurut dia, bagi koperasi dan peternak, yang paling penting saat ini bukan hanya peningkatan kapasitas pengolahan. Namun, juga tentang cara produksi susu segar dalam negeri dapat bertumbuh berkelanjutan.
"GKSI meyakini, dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, koperasi, industri, dan investor, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat produksi susu nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat," imbuh Yusup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













