kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Pelaku Koperasi Susu Soroti Mahalnya Biaya Energi dan Harga Sapi Impor


Senin, 18 Mei 2026 / 16:57 WIB
Pelaku Koperasi Susu Soroti Mahalnya Biaya Energi dan Harga Sapi Impor
ILUSTRASI. kebutuhan susu nasional meningkat seiring dihantui tantangan serius


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah menjadi kunci untuk mendorong pasokan susu nasional. Namun, fluktuasi harga sapi hingga energi saat ini dinilai menjadi penghambat.

Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Yusup Munawar mengatakan, meningkatnya kebutuhan susu nasional dan tumbuhnya minat investasi sapi perah turut mengerek potensi peningkatan populasi.

Namun, saat ini Yusup menilai harga sapi impor yang terus naik menjadi salah satu tantangan utama. "Sementara, ketersediaan bibit sapi di negara asal seperti Australia juga semakin terbatas," ujarnya kepada Kontan, Minggu (17/5/2026).

Baca Juga: Pengamat: Optimalisasi CNG Lebih Efisien dari Beban Subsidi Rp 87 Triliun Per Tahun

Ditambah, lanjutnya, ketidakpastian kondisi global saat ini juga memicu peningkatan biaya energi. Di mana, hal ini turut memengaruhi biaya investasi yang perlu digelontorkan.

Itu sebabnya, Yusup menegaskan pemerintah perlu membantu dalam menjembatani kemitraan antarpelaku usaha, yakni swasta, koperasi, hingga peternak dalam penambahan populasi sapi perah. Ini termasuk melalui impor sapi produktif dan bibit berkualitas.

Selain penambahan populasi melalui impor, ia menyoroti bahwa penguatan breeding nasional juga krusial agar Indonesia memiliki sumber bibit unggul yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Menurut dia, bagi koperasi dan peternak, yang paling penting saat ini bukan hanya peningkatan kapasitas pengolahan. Namun, juga tentang cara produksi susu segar dalam negeri dapat bertumbuh berkelanjutan.

"GKSI meyakini, dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, koperasi, industri, dan investor, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat produksi susu nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat," imbuh Yusup.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×