kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Kerjasama ekonomi RI-AS tetap berupa CPA


Senin, 08 November 2010 / 14:54 WIB
ILUSTRASI. Deretan ATM bank OCBC NISP


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Kedatangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama ke Indonesia tetap akan mengusung agenda kerjasama ekonomi dengan Indonesia. Kerjasama ekonomi tersebut menurut Wakil menteri Perdagangan akan tertuang dalam rencana semula yakni Comprehensive Partnership Agreement (CPA) antara Indonesia dengan AS.

“CPA ini tidak hanya bidang ekonomi, tapi seluruh bidang kerjasama juga akan dirumuskan dalam kerangka kerjasama itu,” kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar di Jakarta, Senin (8/11). Selain ekonomi, dalam CPA tersebut juga akan akan merumuskan kerjasama di bidang pendidikan dan juga teknologi.

Kerja sama ini sebelumnya sudah diajukan oleh Indonesia dan menjadi komitmen bilateral AS- Indonesia saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan lawatan ke Washington DC pada November 2008 lalu. Usulan dari Indonesia tersebut ditindaklanjuti oleh AS yang kemudian sepakat untuk menindaklanjutinya.

Sayangnya, kesepakatan itu tertunda karena tertundanya kedatangan Obama ke Indonesia di awal tahun. Mahendra menyebutkan, hubungan dengan Amerika Serikat cukup penting karena AS adalah negara peringkat ketiga peringkat investor terbesar di Indonesia. “Dan mereka menjadi sumber investasi penting,” terang Mahendra.

Mahendra berharap, dengan adanya CPA nantinya akan ada komitmen bersama untuk meningkatkan hubungan bilateral yang akan mendorong pergerakan ekonomi bagi Indonesia terutama soal investasi. Hubungan dagang dengan AS menurutnya tetap menjadi prioritas walaupun secara perdagangan Indonesia saat ini lebih dekat dengan negara di kawasan seperti China dan India.

“Bukan berarti kedekatan kita dengan kawasan mengurangi posisi strategis Indonesia dengan AS. Hubungan ini akan kami dorong, supaya ada hubungan sehat dengan setiap negara dan tidak hanya dengan satu negara saja,” harap Mahendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×