kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Kimia Farma Genjot Bahan Baku Obat Lokal, Ketergantungan Impor Masih Tembus 95%


Minggu, 28 Juni 2026 / 18:27 WIB
Kimia Farma Genjot Bahan Baku Obat Lokal, Ketergantungan Impor Masih Tembus 95%
ILUSTRASI. Kontan - Kimia Farma Kilas Online (DOK/Kimia Farma)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus memperkuat upaya mendukung kedaulatan kesehatan nasional melalui pengembangan bahan baku obat (BBO) dalam negeri, optimalisasi fasilitas produksi, serta peluncuran produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.

Langkah tersebut dinilai semakin penting di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok industri farmasi, memicu fluktuasi nilai tukar, hingga mengancam ketersediaan bahan baku obat.

Baca Juga: Universitas Amikom Yogyakarta Hadirkan Creative Economy Park

Komitmen tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat mengunjungi fasilitas produksi Kimia Farma Plant Banjaran di Bandung, Selasa (23/6/2026).

Kunjungan dilakukan untuk melihat kesiapan industri farmasi nasional dalam menjaga pasokan obat dan bahan baku obat.

Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma Hadi Kardoko mengatakan, industri farmasi Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena lebih dari 95% bahan baku obat masih bergantung pada impor.

"Gejolak geopolitik seperti konflik di kawasan Iran dan Timur Tengah terbukti memberikan dampak domino yang nyata, mulai dari disrupsi rantai pasok global, lonjakan biaya logistik dan energi, hingga ancaman kelangkaan bahan baku serta produk jadi di pasar domestik," ujar Hadi dalam keterangan resmi, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Penjualan Melonjak 2 Kali Lipat, Danko Gencar Tambah Showroom dan Incar Pabrik di RI

Menurut Hadi, upaya mewujudkan ketahanan kesehatan nasional tidak dapat dilakukan oleh industri semata, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, termasuk Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Salah satu bentuk dukungan tersebut ialah melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta Larangan dan/atau Pembatasan (Lartas) terhadap produk yang telah mampu diproduksi di dalam negeri.

Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri bahan baku obat lokal sekaligus menciptakan ekosistem yang mendukung kemandirian farmasi nasional.

Saat ini Kimia Farma telah mengembangkan bahan baku obat untuk sejumlah terapi prioritas, antara lain kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral (ARV) untuk penanganan HIV.

Melalui Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perseroan telah memiliki 19 bahan baku obat yang mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Sebanyak 18 di antaranya juga telah memperoleh sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Baca Juga: Cuan dari Filipina! Investasi Pertamina NRE di Citicore Cetak ROI 43,4%

Plant Banjaran sendiri merupakan fasilitas produksi terbesar Kimia Farma Group dengan luas sekitar 51.000 meter persegi. Pabrik tersebut memproduksi berbagai sediaan obat kimia maupun obat bahan alam dalam bentuk tablet, kapsul, cairan, hingga serbuk oral.

Fasilitas ini juga telah mengantongi sertifikat CPOB, Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), serta Sistem Jaminan Halal.

Dalam kunjungan tersebut, Faisol Riza menyatakan optimistis Indonesia mampu membangun industri farmasi yang lebih mandiri.

"Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kita optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan demi mendukung ketahanan kesehatan nasional," ujarnya.

Di sisi produk, Kimia Farma terus memperkuat portofolionya melalui peluncuran sejumlah obat baru sepanjang 2025.

Baca Juga: Setelah Bea Masuk 0%, Industri Plastik Masih Menanti Kepastian HGBT

Empat produk yang diperkenalkan yakni Fentakaf (Fentanyl Injeksi) untuk kebutuhan anestesi, Sildenafil, Pantokaf (Pantoprazole) untuk terapi gangguan lambung, serta Moxifloxacin yang mendukung program nasional penanggulangan tuberkulosis (TB).

Perseroan juga mengembangkan sejumlah produk dengan kandungan lokal tinggi. Di antaranya obat antiretroviral TLE 300 mg dan TLE 600 mg dengan nilai TKDN mencapai 52,78%, serta Rosuvastatin untuk terapi penyakit kardiovaskular yang memiliki TKDN sekitar 59%.

Menurut perusahaan, capaian TKDN di atas 50% tersebut memberikan keunggulan kompetitif dalam pengadaan obat nasional sekaligus memperkuat langkah menuju kemandirian industri farmasi.

Dari sisi kinerja, Kimia Farma mencatat penjualan bahan baku obat domestik dan ekspor tumbuh 124% sepanjang 2025. Perseroan juga menjalankan transformasi bisnis dengan mengalihkan fokus dari produk berbiaya tinggi menuju produk inovatif yang memiliki margin lebih besar.

Selain itu, KAEF terus melakukan penyehatan fundamental operasional melalui integrasi pengadaan secara terpusat (centralized procurement) serta transformasi digital di seluruh ekosistem Kimia Farma Group.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×