Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan kinerja sepanjang 2026.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menyampaikan bahwa perseroan akan melanjutkan program transformasi bisnis yang berorientasi pada peningkatan profitabilitas, penguatan struktur keuangan, serta percepatan digitalisasi operasional Perseroan.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah optimalisasi portofolio produk. Perseroan akan fokus pada produk dengan margin lebih tinggi dan potensi pertumbuhan kuat, sekaligus melakukan rasionalisasi terhadap produk yang dinilai kurang optimal.
Langkah ini diharapkan dapat menciptakan portofolio yang lebih sehat dan berdaya saing.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Optimistis Bisa Balikkan Rugi Jadi Laba pada Tahun 2026
Selain itu, Kimia Farma juga memperkuat bisnis inti farmasi melalui peningkatan efisiensi operasional di sektor manufaktur, optimalisasi jaringan distribusi, serta penguatan penetrasi pasar di berbagai segmen, mulai dari rumah sakit, ritel farmasi, hingga pasar pemerintah.
“Percepatan program transformasi operasional dan organisasi berfokus kepada fit for purpose organization, peningkatan produktivitas, serta penguatan tata kelola perusahaan,” ungkap Djagad, kepada Kontan.co.id, Selasa (14/4/2026).
Tak hanya itu, digitalisasi menjadi pilar penting dalam strategi tahun ini. Kimia Farma memperkuat infrastruktur teknologi informasi, mengoptimalkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), serta mengembangkan sistem analitik berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan.
Digitalisasi juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan kualitas layanan kepada pelanggan.
Dari sisi keuangan, perseroan turut melakukan penguatan struktur finansial melalui pengelolaan kewajiban yang lebih terstruktur, optimalisasi aset, serta penjajakan alternatif pendanaan strategis.
“Melalui langkah-langkah tersebut, perseroan menargetkan perbaikan kinerja operasional yang berkelanjutan, peningkatan profitabilitas, serta penguatan fundamental bisnis perseroan dalam jangka menengah dan panjang,” jelasnya.
Baca Juga: Perkuat Bisnis Bioteknologi, Kimia Farma Luncurkan Stemxera
Sejalan dengan transformasi bisnis tersebut, Kimia Farma memproyeksikan pertumbuhan pendapatan berada pada kisaran single digit hingga low double digit pada 2026. Sementara untuk laba bersih diharapkan dapat berbalik positif.
Sebagai informasi, KAEF tercatat membukukan rugi bersih sebesar Rp 443,36 miliar pada 2025, menyusut dari Rp 1,21 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, pendapatan perseroan justru turun 7,2% menjadi Rp9,22 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













