kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.713   5,00   0,03%
  • IDX 6.502   -23,71   -0,36%
  • KOMPAS100 847   -2,03   -0,24%
  • LQ45 641   -3,56   -0,55%
  • ISSI 229   0,24   0,11%
  • IDX30 358   -2,33   -0,65%
  • IDXHIDIV20 434   -2,90   -0,66%
  • IDX80 97   -0,31   -0,32%
  • IDXV30 121   -0,43   -0,36%
  • IDXQ30 113   -0,78   -0,68%

Komitmen ESG PT IKAI, Swiss-Belhotel Bogor Pelopori Konsep Hotel Ramah Lingkungan


Senin, 24 Agustus 2026 / 08:55 WIB
Komitmen ESG PT IKAI, Swiss-Belhotel Bogor Pelopori Konsep Hotel Ramah Lingkungan
ILUSTRASI. PT Intikeramik Alamasri Industri (Dok/Intikeramik)


Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perhotelan di Indonesia mulai memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan seiring meningkatnya kebutuhan terhadap model pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kenyamanan wisatawan, tetapi juga menjaga lingkungan dan efisiensi operasional.

Langkah tersebut salah satunya diterapkan Swiss-Belhotel Bogor, Jawa Barat, sebagai subholding PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI), yang memperkuat program sustainability melalui efisiensi energi dan air, pengurangan plastik sekali pakai, dan penggunaan bahan kimia ramah lingkungan.

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui peluncuran Circular Laundry and Facility Cleaning Pilot Program, hasil kerja sama Swiss-Belhotel Bogor dengan Siklus. Program ini menjadi bagian dari implementasi kerangka environmental, social, and governance (ESG) di lingkungan perusahaan.

Baca Juga: Intikeramik Alamasri (IKAI) Genjot Ekspansi dan Perkuat Tata Kelola

Komisaris Independen PT IKAI Bernardus Djonoputro mengatakan penerapan konsep ramah lingkungan di kawasan Bogor memiliki dampak yang lebih luas karena wilayah tersebut merupakan salah satu penyangga Jakarta.

"Konsep ramah lingkungan ini otomatis bukan hanya mengurangi pencemaran di sekitar Kota Bogor, tetapi juga berdampak positif bagi Ibu Kota Jakarta," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (24/8/2026).

Menurut dia, penguatan praktik keberlanjutan pada sektor perhotelan dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Direktur Utama PT IKAI Desra Ghazfan menegaskan langkah itu merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip ESG.

"Ini membuktikan Swiss-Belhotel telah menjalankan kerangka kerja untuk mengukur dampak keberlanjutan serta etika suatu bisnis di luar aspek keuangan murni," ujarnya.

General Manager Swiss-Belhotel Bogor Heru Wibowo sebelumnya menjelaskan penerapan konsep eco-green merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung agenda energi hijau pemerintah sekaligus menyesuaikan diri dengan standar keberlanjutan internasional.

Swiss-Belhotel Bogor menjadi salah satu pelopor di jaringan hotelnya dalam mengadopsi produk chemical ramah lingkungan dari Cplus, produk PT Siklus Indonesia.

Produk tersebut digunakan untuk empat area utama operasional hotel, yakni laundry, pembersihan area umum, pembersihan dapur, serta perawatan mebel.

Bahan yang digunakan sebelumnya telah diformulasikan untuk kebutuhan rumah sakit sehingga aspek keamanan bagi tamu dan karyawan menjadi salah satu pertimbangan utama.

Dari sisi industri nasional, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Sekitar 70% komponen produk chemical yang digunakan diproduksi secara lokal sehingga turut mendukung peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Penerapan prinsip keberlanjutan tersebut juga diklaim memberikan dampak terhadap efisiensi operasional hotel.

Pada periode 2025–2026, penerapan program tersebut disebut mampu menghemat biaya operasional hingga 30%. Angka efisiensi itu ditargetkan meningkat menjadi 40%–60% pada 2030.

Selain efisiensi biaya, pengelolaan limbah air juga menjadi perhatian. Kualitas air limbah disebut dapat mencapai kondisi netral dengan pH sekitar 7 sehingga lebih aman untuk diproses kembali dan mengurangi risiko pencemaran terhadap ekosistem sungai.

Sementara itu, upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai telah dilakukan sejak awal 2025 dengan mengganti botol plastik kemasan menggunakan botol kaca yang dapat diisi ulang atau refill.

Langkah tersebut menunjukkan agenda keberlanjutan di sektor pariwisata mulai bergeser dari sekadar kampanye lingkungan menjadi bagian dari strategi bisnis, terutama melalui penghematan biaya, penggunaan produk lokal, pengelolaan limbah, dan pengurangan konsumsi plastik.

Jika diterapkan lebih luas, praktik serupa berpotensi memperkuat transformasi industri pariwisata nasional menuju model usaha yang lebih efisien dan memiliki dampak lingkungan lebih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×