kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Konsumsi Energi Fosil Meningkat, Indonesia Hadapi Tantangan Ganda


Rabu, 21 September 2022 / 15:03 WIB
Konsumsi Energi Fosil Meningkat, Indonesia Hadapi Tantangan Ganda
ILUSTRASI. Konsumsi Energi Fosil Meningkat Ratusan Persen, Indonesia Hadapi Tantangan Ganda Penuhi Kebutuhan dan Turunkan Emisi. REUTERS/Pascal Rossignol


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. President ExxonMobil Indonesia and President IPA, Irtiza Sayyed menyampaikan, menurut permodelan Rencana Umum Energi Nasional, konsumsi minyak Indonesia akan meningkat sebesar 139% dan konsumsi gas akan meningkat hampir 300% hingga 2030 mendatang. 

Kenaikan konsumsi energi fosil ini tentu seiring dengan proyeksi penduduk Indonesia akan meningkat lebih dari 23% menjadi hampir 350 juta dalam 30 tahun mendatang.

“Namun demikian, pada saat bersamaan, kita menghadapi peningkatan aksi global untuk masa depan yang lebih rendah karbon. Angka-angka ini menunjukkan bahwa target kontribusi energi baru dan terbarukan meningkat,” jelasnya dalam  IPA Convention and Exhibition di JCC Senayan, Rabu (21/9). 

Baca Juga: Menteri ESDM: Medco Pertimbangkan Beli 10% PI Shell di Blok Masela

Menimbang situasi ini, Irtiza mengemukakan, tantangan energi Indonesia membutuhkan solusi multi-dimensi. Percepatan transisi energi Indonesia membutuhkan kerja sama dari berbagai stakeholders

Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, Irtiza bilang, Indonesia perlu mengembangkan dan menggali potensi migas. Upaya ini akan meningkatkan penerimaan negara dan memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan Indonesia.

Dia mengingatkan transisi ke masa depan beremisi lebih rendah membutuhkan banyak solusi yang dapat diterapkan dalam skala besar untuk menangani beberapa sektor ekonomi dengan emisi tertinggi.

Salah satu teknologi yang paling menjanjikan pencapaian emisi yang lebih rendah adalah Carbon Capture and Storage atau disingkat CCS. Implementasinya dapat melampaui industri hulu dengan menangkap emisi dari sektor-sektor yang sulit untuk didekarbonisasi.

Baca Juga: ENI Akuisis PI Chevron di Proyek IDD? Menteri ESDM: Tunggu Pengumuman Resmi

Penerapan teknologi rendah karbon untuk mengurangi emisi sangat penting untuk mencapai emisi nol pada tahun 2050 atau lebih dini. Maka itu, dukungan kebijakan diperlukan untuk mendorong investasi. 

Adapun teknologi seperti CCS, investasi yang dibutuhkan sangat besar, dan penerapan pada skala industri merupakan komitmen jangka panjang. Untuk meyakinkan bisnis jangka panjang terhadap investasi semacam itu, para pemangku kepentingan berharap bahwa kebijakan pemerintah akan mendukung teknologi yang mereka bantu besarkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×