kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.993   76,00   0,45%
  • IDX 9.134   58,47   0,64%
  • KOMPAS100 1.263   7,36   0,59%
  • LQ45 893   3,69   0,41%
  • ISSI 334   4,00   1,21%
  • IDX30 455   2,66   0,59%
  • IDXHIDIV20 538   4,37   0,82%
  • IDX80 141   0,76   0,54%
  • IDXV30 149   1,74   1,18%
  • IDXQ30 146   0,65   0,45%

Kuota Nikel INCO Dipangkas 70%, Proyek Hilirisasi Terancam?


Senin, 19 Januari 2026 / 18:18 WIB
Kuota Nikel INCO Dipangkas 70%, Proyek Hilirisasi Terancam?
ILUSTRASI. PT Vale Indonesia (INCO) hanya dapat 30% kuota nikel 2026. Ini bisa hambat operasional pabrik dan hilirisasi. Apa dampaknya pada saham INCO? (Dok/INCO)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengaku hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Persetujuan RKAB tersebut baru diterima dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), namun perusahaan belum merinci jumlah kuota yang disetujui.

Presiden Direktur INCO, Bernardus Irmanto, menyatakan kuota terbatas itu kemungkinan tidak akan cukup untuk memenuhi komitmen operasional pabrik pengolahan nikel yang dimiliki perusahaan.

“Saat ini, kami sudah memperoleh approval atau persetujuan atau pengesahan RKAB. Namun demikian, kuota yang diberikan kepada PT Vale sekitar 30% dari apa yang kami minta. Kemungkinan besar tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan di atas,” ujar Bernardus dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Raih Peringkat ESG Terbaik Sepanjang Sejarah Perusahaan

Keterbatasan kuota ini dikhawatirkan menghambat pasokan bijih nikel untuk tiga proyek hilirisasi utama INCO, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara, IGP Sorowako di Sulawesi Selatan, dan IGP Morowali di Sulawesi Tengah.

Ketiga proyek ini membutuhkan pasokan nikel yang cukup besar agar produksi dan pengolahan tetap berjalan optimal.

Di sisi keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun hingga November 2025. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte serta bijih nikel saprolit berkadar tinggi.

 

Bernardus menyebutkan, produksi nikel matte sepanjang 2025 melebihi target, dengan realisasi 66.848 ton atau naik 3% secara tahunan (year on year/yoy). Penjualan nikel matte tercatat 67.351 ton, meningkat 2% yoy.

Selain itu, ekspansi komersial penjualan bijih nikel saprolit dari Pomalaa dan Bahodopi juga berjalan positif, dengan total penjualan mencapai 1,91 juta wet metric ton (wmt). Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tekanan dari pelemahan harga nikel sepanjang tahun 2025.

Selanjutnya: Menilik Pemangkasan Produksi Nikel dan Dampaknya ke Ekosistem Hilirisasi

Menarik Dibaca: 5 Cara Merawat Tas Kulit Agar Awet, Perhatikan Cara Penyimpanannya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×