Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri properti saat ini dihadapkan tekanan yang semakin besar seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia Martin Hutapea mengatakan, salah satu indikator yang cukup diperhatikan saat ini adalah pergerakan rupiah yang diperhatikan investor asing dalam menilai risiko investasi di Indonesia.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dinilai masih menimbulkan perdebatan. Sebagian pihak mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi yang banyak ditopang konsumsi domestik.
Baca Juga: VIVA Apotek Bukukan Lonjakan Penjualan 35% di BeautyFest Asia 2026
“Pertumbuhan ekonomi kita memang bagus, 5,6%. Tapi ini sebenarnya banyak yang mempertanyakan, betul nggak sih 5,6%? Karena apa? Ada yang dibilang karena domestic consumption. Karena pada saat itu ada aktivitas, hari raya, hiburan dan sebagainya, itu make sense," ungkap Martin, dalam agenda media briefing, Kamis (18/6/2026).
Tak hanya itu, pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA), inflasi, hingga aktivitas manufaktur juga menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Martin menilai penguatan rupiah belum sepenuhnya berkelanjutan meskipun BI Rate dinaikkan.
Lebih lanjut dia mengatakan pelemahan rupiah hampir selalu membawa tantangan bagi industri properti. Namun demikian, kondisi tersebut juga menciptakan sejumlah peluang baru.
Dari sisi pasokan (supply), pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya konstruksi karena banyak material dan komponen bangunan masih bergantung pada impor. Kondisi ini dapat menekan margin pengembang sekaligus memengaruhi spesifikasi proyek yang akan dibangun.
Namun, di tengah kondisi tersebut, stok rumah dan unit kondominium yang sudah selesai dibangun berpotensi lebih diminati pasar.
"Rumah dan unit kondominium yang in-stock itu akan lebih diminati. Kenapa? Karena harganya masih harga yang pada saat rupiah 16 ribu dibangun. Kalau yang ini, yang nanti akan dibangun itu berpotensi downspec. Karena rupiahnya 18 ribu,” kata Martin.
Pelemahan daya beli masyarakat juga berpotensi membuat pengembang menunda peluncuran proyek baru.
Tantangan juga muncul dari sisi pembiayaan. Menurut Martin, pelemahan rupiah membuat perbankan perlu melakukan evaluasi ulang terhadap proyeksi biaya konstruksi dan kelayakan proyek sebelum menyalurkan kredit.
Baca Juga: Bahlil Kaji Revisi Harga DMO Batubara, Pushep Usul Naik ke US$ 80 - US$ 90 per Ton
"Pembiayaan proyek melalui pinjaman bank semakin sulit. Kenapa? Karena sebelum meminjam dari bank, itu ada suatu studi. Dan itu ada suatu forecast jangka panjang, 10, 15, 20 tahun. Dan itu asumsi construction cost yang sudah versi rupiah masih menguat. Jadi kalau rupiah versi melemah itu harus di-evaluasi lagi," tuturnya.
Kenaikan suku bunga dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga diperkirakan berdampak pada permintaan kredit pemilikan rumah (KPR). Meski begitu, Martin melihat peluang berkembangnya model bisnis properti berbasis sewa, khususnya di lokasi-lokasi strategis.
"Skema sewa di lokasi strategis semakin diminati dan menarik bagi pengembang. Jadi pengembang yang mau mengembangkan proyek dijual, itu akan berubah ke sewa," ujarnya.
Kenaikan harga BBM juga dinilai akan mengubah preferensi masyarakat dalam memilih hunian. Biaya transportasi yang lebih tinggi membuat properti di sekitar kawasan transit oriented development (TOD) berpotensi menjadi pilihan utama.
Menurut hasil survei Leads Property, konsumen cenderung lebih menyukai hunian yang berjarak maksimal 10 hingga 15 menit dari fasilitas transportasi massal.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perluas Akses Energi Lewat Ekspansi Fasilitas BBM Hingga LPG
Tak hanya itu, rumah dengan konsep hemat energi juga berpotensi menjadi pilihan di tengah ketidakpastian ekonomi dan pelemahan rupiah. "Rumah dengan solar cell, misalnya. Atau hemat energi. Itu kan cukup untuk menghemat biaya operasional," pungkas Martin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













