kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.840   51,00   0,29%
  • IDX 6.128   -92,74   -1,49%
  • KOMPAS100 811   -14,16   -1,72%
  • LQ45 613   -12,20   -1,95%
  • ISSI 209   -2,90   -1,37%
  • IDX30 347   -7,77   -2,19%
  • IDXHIDIV20 425   -11,47   -2,63%
  • IDX80 92   -1,67   -1,78%
  • IDXV30 114   -1,57   -1,36%
  • IDXQ30 111   -3,23   -2,83%

Madusari (MOLI) Siapkan Capex Rp 350 Miliar pada 2026, Lirik Peluang dari Program E5


Kamis, 18 Juni 2026 / 12:57 WIB
Madusari (MOLI) Siapkan Capex Rp 350 Miliar pada 2026, Lirik Peluang dari Program E5
ILUSTRASI. PT Madusari Murni Indah Tbk (Dok/MOLI)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) melirik peluang dari rencana pemerintah untuk mengimplementasikan program campuran bensin dengan etanol. Pemerintah berencana menerapkan program E5, yang mencampurkan bensin dengan 5% fuel-grade ethanol pada semester II-2026.​

Direktur Utama Madusari Murni Indah, Jose G. Tan mengungkapkan bahwa MOLI berupaya menangkap peluang pertumbuhan industri bioetanol nasional, terutama melalui program E5 atau campuran bensin dengan bioetanol yang akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Kebijakan ini diproyeksikan akan meningkatkan kebutuhan fuel-grade ethanol hingga mencapai 1,2 juta kiloliter pada tahun 2030.

Baca Juga: MPMRent Gandeng Wuling Perkuat Armada Kendaraan Listrik untuk Pelanggan Korporasi

Sebagai strategi menangkap peluang tersebut, MOLI menggelar sejumlah agenda ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi. Ekspansi ini dilakukan untuk memperkuat posisi pasar MOLI sekaligus mendukung program transisi energi nasional.

Secara keseluruhan, MOLI menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp 350 miliar pada tahun 2026.

"Investasi ini difokuskan pada pengadaan peralatan distilasi baru, lini produksi liquid CO2, boiler, serta berbagai peralatan pendukung lainnya,” ungkap Jose melalui keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis (18/6/2026).

Selain untuk peningkatan kapasitas, alokasi capex tersebut dirancang untuk menciptakan proses produksi yang lebih efisien guna menekan biaya operasional. “Investasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga mendorong efisiensi biaya serta membuka peluang pengembangan produk etanol baru yang lebih kompetitif,” imbuh Jose.

Di tengah tantangan kenaikan biaya energi, Jose menyampaikan bahwa MOLI terus melakukan investasi pada teknologi produksi yang lebih mutakhir serta memperkuat kegiatan riset dan pengembangan (R&D). Langkah ini dijalankan untuk mendorong penciptaan produk-produk baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Baca Juga: Kemenhub Revisi Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Pertimbangkan Harga Avtur dan Kurs

Secara keseluruhan, MOLI mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam dinamika industri saat ini. Tantangan tersebut meliputi kelebihan pasokan (oversupply) etanol non-fuel grade di pasar domestik, pengendalian ekspor bahan baku yang belum optimal, serta tekanan biaya energi. 

Menyikapi kondisi tersebut, MOLI fokus menyasar niche market (pasar khusus) yang membutuhkan produk berkualitas dengan margin yang lebih baik, terutama di pasar internasional.

“Di tengah kondisi oversupply di pasar domestik, kami berfokus pada segmen pasar yang membutuhkan produk berkualitas lebih tinggi dengan margin yang lebih menarik," ujar Jose.

Pada saat yang sama, MOLI juga terus mencermati dinamika geopolitik dan ekonomi global yang bisa turut berdampak terhadap industri etanol dan karbondioksida cair.

"Kami juga tetap waspada terhadap dampak ekonomi akibat konflik global yang masih berlangsung, namun kami optimis dengan prospek usaha MOLI di tahun 2026,” tutup Jose.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×