Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) diproyeksi tetap bertumbuh pada kuartal III-2026. Hal tersebut berkat kuatnya realisasi pra-penjualan dan kontribusi pendapatan berulang.
Meski demikian, akselerasi pertumbuhan laba bersih emiten pengembang properti ini masih dibayangi oleh tingginya beban pembiayaan dan suku bunga acuan.
Laporan riset Maybank Sekuritas Indonesia mencatat, pra-penjualan SMRA melesat 17,1% YoY pada semester I-2026, didorong permintaan kawasan Serpong dan Bandung.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie mengatakan, pertumbuhan pendapatan SMRA pada kuartal III-2026 bakal bergerak moderat.
Baca Juga: Sumber Sinergi (IOTF) Genjot Transformasi AI, Pendapatan Naik 12% di Semester I-2026
Menurutnya, penguat utama kinerja operasional perseroan ditopang oleh recurring income serta realisasi marketing sales dari periode sebelumnya.
Adrian mencatat, capaian pra-penjualan per Mei 2026 telah menembus Rp 2 triliun atau setara dengan 38% dari target tahunan sebesar Rp 5,2 triliun.
"Namun perlu diperhatikan bahwa laba bersih SMRA pada kuartal 1 menurun 20% secara YoY, hal ini disebabkan beban bunga yang meningkat," ujar Adrian kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Tingginya tekanan beban non-operasional tersebut sejalan dengan riset Ciptadana Sekuritas Asia yang mencatat laba bersih SMRA kuartal I-2026 turun menjadi Rp 190 miliar akibat lonjakan beban bunga.
Senada, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memandang prospek kuartal III-2026 relatif konstruktif.
Wafi mengamati bahwa capaian pra-penjualan semester I yang melampaui estimasi menjadi indikasi kuatnya permintaan riil di pasar.
Meskipun periode kuartal ketiga secara historis mengalami penurunan musiman, backlog pra-penjualan akan mulai diakui sebagai pendapatan seiring kemajuan proyek.
Dari sisi tantangan, Wafi menyoroti tiga faktor utama, yakni BI Rate di level 5,75%, pelemahan rupiah ke Rp 18.000 yang menaikkan biaya konstruksi impor, serta ketidakpastian global.
Adrian mengamini hal tersebut dengan menambahkan bahwa insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) dan stabilitas daya beli masyarakat menjadi sentimen kunci yang wajib dicermati investor.
"Karena pertumbuhan pendapatan ke depan sangat bergantung pada momentum marketing sales saat ini, suku bunga rendah akan mendorong presales dan pada gilirannya menopang pendapatan periode mendatang," tutur Adrian.
Mengenai pendorong kinerja jangka panjang, kedua analis memiliki pandangan yang saling melengkapi terkait pilar bisnis perseroan.
Adrian memperkirakan, segmen penjualan properti masih mendominasi pendapatan dengan kontribusi historis mencapai 63%.
Di sisi lain, Wafi menilai segmen recurring income seperti mal dan hotel menawarkan fondasi yang lebih stabil di tengah gejolak ekonomi.
"Recurring income (mal, hotel) adalah penopang lebih reliable daripada residential sales," terang Wafi kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Wafi menambahkan bahwa pendapatan berulang berfungsi sebagai benteng pertahanan bisnis karena tidak terpengaruh langsung oleh siklus KPR maupun pergerakan suku bunga.
Keberadaan aset komersial ini memberikan kepastian arus kas jangka panjang serta menjadi perlindungan alami (natural hedge) bagi SMRA.
Baca Juga: Basis Manufaktur Energi Baru XCMG Beroperasi di IWIP, Siap Pasok Alat Berat Listrik
Ke depan, potensi kelanjutan pameran Summarecon Expo serta kejelasan arah kebijakan moneter Bank Indonesia diperkirakan bakal menjadi pemicu utama evaluasi ulang (re-rating) bagi harga saham SMRA.
Sentimen positif tambahan juga berpotensi datang dari peluang masuknya kembali modal asing di pasar saham.
Oleh karena itu, konsistensi pencapaian marketing sales setiap kuartal tetap menjadi indikator utama yang perlu dicermati oleh para investor.
Ketahanan kinerja SMRA diyakini akan sangat ditentukan oleh resiliensi segmen menengah-atas di kawasan Serpong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














