Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selama 57 tahun beroperasi, PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) telah berkembang menjadi penyedia layanan maritim terintegrasi. Ke depan, PTK akan memperkuat operational excellence dengan modernisasi, digitalisasi dan kapal penunjang ramah lingkungan (green supporting vessel).
PTK didirikan pada tahun 1969 sebagai Anak Usaha PT Pertamina dengan nama PT Pertamina Tongkang sebagai jasa kapal pandu tunda. Hingga tahun 1991, perusahaan mendirikan beberapa anak usaha untuk mendukung layanan maritim. Pada tahun 2011, nama PT Pertamina Tongkang berubah menjadi PT Pertamina Trans Kontinental.
Hingga kini, pengembangan bisnis telah terintegrasi pada layanan penunjang kemaritiman, mencakup penyediaan dan operasional armada kapal penunjang (support vessel), pelabuhan (port operation), layanan maritim (marine service) dan pangkalan logistik pesisir (shorebase) di sejumlah wilayah strategis Indonesia.
“Ke depan, kami akan perkuat modernisasi, digitalisasi serta green supporting vessel. Ini adalah masa depan PTK,” ujar Direktur Utama PTK, Harris Abdi Sembiring Meliala dalam keterangannya, dikutip Minggu (13/9).
Baca Juga: Beban Bayangi Beban Industri Tambang, Ada Tiga Faktor yang Pengaruhi Efisiensi
Dia bilang, era kapal ramah lingkungan di PTK dimulai tahun 2019, melalui kapal Transko Rajawali yang merupakan kapal tunda (harbour tug) berbahan bakar ganda (dual-fuel) pertama di Indonesia. Berukuran panjang 34 meter, kapal ini menggunakan bahan bakar solar dan Liquefaction Natural Gas (LNG), sehingga lebih ramah lingkungan dan rendah emisi.
PTK juga memperluas penggunaan bahan bakar hijau pada kapal penunjang lainnya, utility boat dan crew boat. Salah satunya, pada 11 Juni 2026, PTK berhasil melakukan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303. Inovasi hijau ini diklaim mampu memangkas emisi hingga 79,2 ton CO2 per tahun, sekaligus menekan ketergantungan armada logistik laut terhadap konsumsi bahan bakar diesel (solar).
Selain memperluas penggunaan panel surya, PTK juga menyiapkan uji coba Battery Management System (BMS) pada kapal mulai 2027 sebagai bagian dari pengembangan teknologi pendukung green shipping.
Harris menambahkan, saat ini PTK memiliki 370 kapal milik dan menyewa sekitar 82 unit kapal lainnya. PTK berencana menambah kapal baru sebagai upaya peremajaan dan modernisasi, termasuk untuk kapal eksisting. Hal ini guna terus meningkatkan kemampuan operasional PTK, sekaligus layanan excellence bagi pelanggan.
Menurut dia, PTK menjaga kualitas layanan dengan peremajaan serta modernisasi aset-asetnya. Kemudian digitalisasi operasi, di mana saat ini PTK sudah memiliki 21 digitalisasi di seluruh fungsi kerja.
Baca Juga: Produksi Batubara Diproyeksi Turun, APBI: Outlook Realisasi Dipengaruhi Banyak Faktor
"Ke depan, aplikasi ini akan meningkat menjadi Artificial Intelligence (AI) sehingga dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan,” jelas Harris.
Harris berharap, rencana tersebut didukung oleh seluruh pihak termasuk Pemegang Saham, Manajemen, Perwira Pekerja PTK, serta stakeholder untuk mendukung upaya tersebut. Tidak hanya untuk memajukan PTK untuk terus berkembang, maju dan unggul, namun mendorong industri maritim Indonesia yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














