kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Mencermati Peluang Warga RI Berinvestasi Properti di Australia


Selasa, 11 Agustus 2026 / 16:02 WIB
Mencermati Peluang Warga RI Berinvestasi Properti di Australia
ILUSTRASI. Proyek rumah tapak yang dimebangkan Capital Value International Group (CVIG)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti Australia masih menawarkan peluang investasi jangka panjang yang kuat karena pertumbuhan populasi terus mendorong permintaan, sementara pasokan hunian masih terbatas. 

Hal itu disampaikan Chief Executive Officer Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi.  Menurutnya, kondisi ini menjadikan properti berkualitas di Australia bukan sekadar pilihan diversifikasi aset bagi investor Indonesia,  tetapi juga berpotensi menjadi instrumen pembangun kekayaan dalam jangka panjang.

"Fundamental pasar Australia saat ini sangat kuat. Populasi terus bertambah, sementara pembangunan hunian belum mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan. Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini merupakan peluang yang sangat menarik," ujar Chandra Leonardi, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, meski nilai tukar dan suku bunga bersifat siklikal, kebutuhan hunian akan terus tumbuh sehingga properti berkualitas berpotensi menjadi instrumen pembangun kekayaan jangka panjang.

Pemerintah Australia melalui National Housing Accord menargetkan pembangunan 1,2 juta rumah baru hingga 2029, namun tingginya biaya konstruksi, keterbatasan tenaga kerja, dan lamanya proses perizinan membuat realisasinya masih tertinggal dari target.

Baca Juga: Segmen Premium Jadi Penopang Pasar Kondominium di Jakarta

Di sisi lain, populasi Australia terus tumbuh didorong migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, dan migrasi permanen. Sydney dan Melbourne menjadi dua kota dengan arus migrasi terbesar, menjaga permintaan hunian dan properti sewa tetap tinggi dalam jangka panjang.

Data Australian Bureau of Statistics (ABS) mencatat nilai pasar properti residensial Australia mencapai sekitar AUD12,8 triliun. Di Sydney, CoreLogic Australia mencatat median harga rumah telah melampaui AUD 1,2 juta, sementara vacancy rate hanya sekitar 1,3%. Menurut SQM Research, angka tersebut mencerminkan pasokan hunian yang masih sangat terbatas.

Peta investasi properti Australia juga mulai bergeser. Data terakhir Foreign Investment Review Board (FIRB) menunjukkan investor Indonesia mencatat persetujuan investasi residensial sekitar AUD 100 juta, menempatkan Indonesia sebagai salah satu investor terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan. Di sisi lain, investasi properti China yang pernah mencapai sekitar A$31,9 miliar per tahun terus menurun. 

Sementara, minat investor dari Indonesia, India, Jepang, dan Vietnam meningkat, didorong kebutuhan diversifikasi aset, nilai tukar, dan investasi jangka panjang. Menurut Chandra, pergeseran ini membuka peluang bagi investor Indonesia untuk mengisi ruang yang sebelumnya didominasi pembeli China, terutama di segmen hunian premium Sydney.

CVIG Menjawab Pasar

Melihat kuatnya potensi pasar, CVIG terus memperkuat pijakannya di segmen hunian premium Sydney dengan menghadirkan produk yang memadukan kualitas hidup dan potensi investasi jangka panjang.

Baca Juga: Ketersediaan Pasokan Hunian Dinilai Jadi Kunci Daya Tarik Properti bagi Generasi Muda

Didirikan pada 2013 oleh pengusaha kelahiran Jakarta, Chandra Leonardi, CVIG fokus mengembangkan hunian tapak, bukan apartemen. Proyek terbarunya hadir di Roselands, kawasan hunian yang berkembang pesat dan hanya sekitar 20–30 menit dari CBD Sydney.

Dibangun di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi (m2), proyek ini menghadirkan townhouse premium eksklusif dengan harga sekitar Rp 30 miliar per unit dan nilai pengembangan mencapai Rp 225 miliar. Angka tersebut sekaligus mencerminkan tingginya permintaan terhadap hunian premium di Sydney.

Untuk memastikan standar desain kelas atas, CVIG menggandeng M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia, firma yang berpengalaman menangani hunian mewah dan proyek komersial prestisius.

Chandra menilai nilai properti tidak hanya ditentukan lokasi, tetapi juga besarnya komponen lahan, kualitas lifestyle, dan akses ke major roads. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar CVIG dalam merancang proyek yang bukan sekadar premium secara tampilan, tetapi memiliki prospek pertumbuhan nilai yang sehat dalam jangka panjang.

Baca Juga: REI Sebut Danantara Housing Expo 2026 Bisa Dorong Minat Generasi Muda Beli Rumah

Keberanian CVIG membidik hunian premium di Sydney merupakan hasil perjalanan bisnis lebih dari satu dekade. Berdiri pada 2013 sebagai agensi pemasaran properti di Australia, CVIG mulai mengembangkan proyek sendiri pada 2017. Transformasi itu mengubah posisi perusahaan menjadi pengembang properti dengan portofolio yang kini mendekati Rp 500 miliar.

Chandra menjelaskan bahwa CVIG membangun bisnis dari kondisi tanpa nama besar, rekam jejak, dan sumber daya yang memadai. Berbagai tantangan menjadi proses pembelajaran yang membentuk budaya perusahaan, dengan menekankan adaptasi terhadap dinamika pasar, integritas, akuntabilitas, kolaborasi, dan inklusivitas. Nilai itu menjadi landasan CVIG dalam menjembatani kebutuhan investor Indonesia dan Asia yang ingin berinvestasi di pasar properti Australia.

Menurut Chandra, investor Indonesia masih mempertimbangkan kedekatan properti dengan city dan city view, tetapi keputusan investasi kini semakin didasarkan pada fundamental pasar, seperti pertumbuhan populasi, pembangunan infrastruktur, permintaan sewa, dan potensi kenaikan nilai aset jangka panjang. 

Australia, khususnya Sydney, dinilai memenuhi indikator tersebut, terlebih di tengah krisis pasokan hunian yang dipandang sebagai peluang struktural jangka panjang. “Karena itu saat ini merupakan momentum yang tepat bagi investor Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan nilai properti Australia.” pungkas  Chandra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×