Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi properti komersial alias commercial real estate di kawasan Asia Pasifik mencapai US$ 47 miliar pada kuartal I-2026. Naik 31% secara tahunan atau year on year (yoy).
Pencapaian ini rekor tertinggi untuk periode kuartal pertama. Mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap pasar properti kawasan.
Berdasarkan laporan JLL, investasi lintas negara juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Nilainya mencapai US$ 16,3 miliar pada kuartal I-2026 atau melonjak 87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Singapura mencatat pertumbuhan investasi terbesar di Asia Pasifik dengan nilai transaksi mencapai US$ 11,5 miliar. Meningkat 433% yoy. Sementara, Jepang tetap menjadi pasar properti komersial terbesar di kawasan, dengan total investasi US$ 13,2 miliar. Turun 4% dibandingkan kuartal I-2025.
Dari sisi sektor, perkantoran masih mendominasi dengan nilai transaksi US$ 24 miliar atau naik 46% yoy. Adapun investasi di sektor industri dan logistik meningkat 53% menjadi US$ 8,5 miliar.
Sementara investasi data center mencapai US$ 4,1 miliar. DIdorong meningkatnya kebutuhan kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, serta regulasi terkait kedaulatan data.
Baca Juga: Summarecon Bandung Ubah Gedebage Jadi Kota Terpadu Modern Selama 11 Tahun
CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, Stuart Crow mengatakan, meskipun pasar mencatat awal tahun yang kuat, kawasan Asia Pasifik masih menghadapi risiko dari gejolak harga energi akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah
"Dalam jangka pendek, kami memperkirakan modal akan lebih banyak mengalir ke pasar matang dan likuid seperti Jepang dan Singapura. Selain itu, kenaikan biaya konstruksi akibat harga energi juga dapat membatasi pasokan baru. Pada akhirnya memperkuat prospek pendapatan dan nilai aset yang berada di lokasi strategis," paparnya, Kamis (4/6).
JLL memperkirakan, permintaan kapasitas data center di Asia Pasifik akan tumbuh rata-rata 19% per tahun dalam lima tahun mendatang. Di tengah keterbatasan pasokan dan daya listrik di sejumlah pasar utama, lokasi berkembang seperti Batam, Johor Bahru, dan Bangkok mulai dilirik sebagai destinasi investasi baru.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah mengatakan, Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik berkat fundamental ekonomi yang kuat, pertumbuhan ekonomi digital, bonus demografi, serta meningkatnya adopsi AI.
"Kami melihat minat investor yang tetap tinggi terhadap sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk logistik dan manufaktur, data center, dan perhotelan," kata Farazia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













