kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.814   -55,00   -0,31%
  • IDX 6.172   -48,40   -0,78%
  • KOMPAS100 818   -6,94   -0,84%
  • LQ45 617   -8,31   -1,33%
  • ISSI 211   -1,14   -0,54%
  • IDX30 349   -5,96   -1,68%
  • IDXHIDIV20 427   -9,63   -2,21%
  • IDX80 93   -0,82   -0,87%
  • IDXV30 114   -1,07   -0,93%
  • IDXQ30 111   -2,80   -2,45%

Menimbang peluang IPO MIND ID


Senin, 10 Mei 2021 / 19:56 WIB
ILUSTRASI. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini tengah mengkaji rencana IPO untuk Inalum Operating dan MIND ID.


Reporter: Azis Husaini, Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini tengah mengkaji rencana initial public offering (IPO) untuk Inalum Operating dan MIND ID.

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, rencana IPO untuk MIND ID dapat menjadi alternatif pendanaan jika kebutuhan capex semakin besar seiring rencana hilirisasi yang tengah didorong.

"Dengan menjadi perusahaan terbuka maka unsur good corporate governance bisa dijaga dan kredibilitas lebih baik. Ini bisa jadi daya tarik bagi investor," terang Toto kepada Kontan.co.id, Senin (10/5).

Toto menambahkan, dengan pelaksanaan IPO maka ada sejumlah hal yang patut dipertimbangkan antara lain regulasi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang ada pada anak usaha maupun aset apakah bisa diteruskan atau tidak.

Baca Juga: Rencana pembangunan smelter Freeport dan Tsingshan tidak kunjung temui titik cerah

Selain itu, MIND ID yang menguasai aset tambang nasional perlu dijaga nilainya atau ditingkatkan. "Jangan sampai timbul kesan nanti dengan go public seperti hanya sekedar menjual aset tambangnya saja," kata Toto.

Toto melanjutkan jika memang yang di IPO kan adalah MIND ID sesuai dengan kepemilikan aset yang ada maka bagi PT Freeport Indonesia hal ini dapat menjadi semacam backdoor listing.

Untuk itu, Toto menyarankan agar value creation dapat tetap dijaga yakni dengan mendorong kegiatan eksplorasi sehingga memberi nilai tambah bagi nasional.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII Eddy Soeparno mengatakan, perlu ada kajian mendalam untuk pelaksanaan IPO. "IPO bukan hal yang buruk tapi jika menyangkut aset vital negara kajian harus mendalam," ujar Eddy.

Eddy melanjutkan, IPO pada holding company kalau dibandingkan dengan operating company maka peminat operating company lebih besar. Pasalnya, holding company umumnya tak memiliki aset melainkan hanya memiliki saham pada anak perusahaan.

Eddy melanjutkan, selain pertimbangan tersebut pelaksanaan IPO juga perlu mencermati penggunaan dana yang akan diperoleh dari IPO.

"Apa untuk peningkatan produktivitas, meningkatkan kapasitas produksi, efisiensi membeli mesin baru atau untuk lunasi hutang, ada beberapa hal yang perlu dijadikan kajian untuk pemanfaatan dana hasil IPO," kata Eddy.

Selanjutnya: Wamen BUMN: Rencana IPO MIND ID masih dikaji

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×